I.
PENDAHULUAN
Ternak sapi potong adalah salah satu
jenis ternak penghasil daging yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan penting
artinya bagi kehidupan masyarakat, sebab ternak bisa menghasilkan berbagai
macam produk guna mencukupi kebutuhan manusia, terutama sebagai bahan pangan
berupa daging, disamping hasil ikutan lain seperti pupuk kandang, kulit dan
tulang.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan
masyarakat akan produk asal ternak yang
terus meningkat sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan
kesadaran akan pentingnya pangan yang bergizi, maka upaya yang dilakukan adalah
dengan memacu peningkatan produksi melalui
budidaya.
Budidaya peternakan perlu dilakukan karena
dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan masyarakat tetapi dalam usaha
tersebut terdapat salah satu persoalan sampingan yang patut diperhatikan yakni
limbah ternak. Limbah ternak terdiri dari feses, urine dan sisa pakan. Apabila
limbah tersebut tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan pencemaran
lingkungan seperti pencemaran udara, air, tanah dan sebagai media berkembangnya
penyakit yang pada akhirnya akan menggangu usaha pemeliharaan ternak dan
menyebabkan berbagai kerugian (Chalik, 2009).
Praktek Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa
PPDH Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
memiliki tujuan :
1.
Meningkatkan kemampuan dan pemahaman
mahasiswa mengenai Kesehatan Sapi potong.
2.
Meningkatkan kerjasama antar perguruan
tinggi dengan farm terkait (Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dengan PUSKESWAN
Kandat ).
3.
Mengetahui dan melaksanakan managemen
serta penanganan penyakit unggas di Kecamatan Kandat ,Kabupaten Kediri.
1.
Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini
diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kesehatan
peternakan Sapi potong.
2.
Memperoleh informasi
tentang kesehatan ruminansia khususnya sapi potong.
.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
Perawatan Kondisi Badan Sapi
Dalam usaha pemeliharaan ternak pencegahan penyakit lebih diutamakan
dari pada pengobatan karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan
tidak menjamin keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Faktor penting yang
harus diperhatikan untuk menjaga kesehatan ternak yaitu sanitasi, pemberian
pakan berkualitas dan vaksinasi.
1. Sanitasi
Sanitasi merupakan penjagaan kesehatan ternak lewat kebersihan kandang,
ternak, peralatan dan lingkungan. Kegiatan memandikan ternak terlihat sepele
namun jika tidak ditangani secara rutin kerugian yang diakibatkan cukup besar.
Memandikan dalam hal ini tidak hanya dalam arti membersihkan dari kotoran
yang melekat dibadan tapi juga sekaligus dilakukan pengobatan eksternal
terhadap kuku, parasit, jamur, kudis, dan lain - lain yang sifatnya mengganggu
kesehatan kulit. Untuk memandikan ternak sapi ini perlu disediakan fasilitas
seperti dipping atau spraying. Akan tetapi hanya tindakan
spraying yang sering dilakukan di peternakan tersebut, dan dipping tidak
dilakukan dikarenakan tidak memiliki bak untuk memandikan ternak sapi. Dipping merupakan tindakan menyelamatkan ternak sapi ke dalam ternak
sapi yang berisi air dan zat kimia pembunuh eksternal parasit. Sapi akan berenang sepanjang bak tersebut dan
badannya akan basah oleh air yang mengandung zat kimia.
Spraying adalah
tindakan menyemprotkan zat kimia pembunuh eksternal parasit ke badan sapi
secara mekanis maupun manual. Tujuan Dipping dan spraying pada dasarnya adalah
sama yakni unutk membunuh eksternal parasit yang terdapat pada badan sapi. Akan
tetapi, penggunaan dipping lebih ekonomis kerana cairan zat kimia dapat digunakan berulang-ulang, tetapi perlu
diperhatikan apabila hujan turun dosis zat kimia akan menurun dan tidak efektif
lagi akibat bertambahnya air. Keuntungan spraying adalah tidak berubahnya dosis
zat kimia. Selain itu, penyemprotan dapat mencapai bagian tubuh yang mungkin
terlewat apabila dilakukan dengan cara dipping, misalnya bagian telinga, dasar
tanduk, dan bagian tepi lainnya.
Lantai kandang
diupayakan selalu dalam kondisi bersih dan kering, sirkulasi udara terjamin dan
ruangan harus mendapat sinar matahari pagi. Selain itu peralatan makan dan minum harus dicuci setiap hari hingga tidak
memberi peluang bagi penyebaran penyakit. Lingkungan sekitar kandang pun harus
dibuat parit agar terbebas dari genangan air atau lembab. Selain itu kandang
dan peralatannya harus didesinfektan minimal dua bulan sekali.
Di peternakan
kandang milik kelompok tani ini kebersihan
kandang dan sekitarnya telah dijaga dengan baik sehingga selalu dalam keadaan
bersih, lantai kandangnya pun sudah diupayakan dalam keadaan kering. Namun yang
belum dilakukan ialah memandikan ternak hal ini akhirnya berdampak pada
kesehatan ternak, badan ternak banyak dihinggapi parasit eksternal yang
akhirnya menggigit tubuhnya kalau tidak diperhatikan dengan benar maka gigitan
itu lama kelamaan akan menjadi luka akibat dari ini kualitas kulitnya jelek
sehingga nilai jual kulit akan rendah. Dampak lain yang ditimbulkan
karena tubuh ternak banyak dihinggapi parasit adalah waktu yang seharusnya
digunakan ternak untuk makan jadi terbagi karena ternak sibuk menggaruk-garuk
tubuhnya.
2. Pakan
Pemberian pakan
berkualitas rendah dan tidak memenuhi kandungan gizi dapat mengakibatkan
defisiensi pada ternak, sebaliknya pemberian pakan berkualitas tinggi akan
meningkatkan produktivitas dan mencegah adanya penyakit.
3. Penanganan Kesehatan Ternak
Penanganan kesehatan ternak dapat dilakukan
dengan beberapa cara yaitu pencegahan, pengobatan, pengafkiran dan
pembasmian. 1). Vaksinasi dilakukan untuk ternak yang sehat baik yang
sementara dipelihara maupun untuk ternak yang baru didatangkan dari tempat
lain. Kegiatan vaksinasi dilakukan untuk mencegah agar ternak tidak terserang
penyakit terutama penyakit yang penyebabnya virus. Hal – hal yang patut
diperhatikan saat melaksanakan vaksinasi yaitu vaksin yang digunakan, alat yang
digunakan, vaksinator dan ternak yang akan divaksin. Ke empat faktor tersebut harus diperhatikan dan jangan satupun diabaikan.
2). Pengobatan, yaitu usaha memberikan obat kepada ternak yang sakit hingga
ternak menjadi sembuh dan berproduksi. Pemberian obat harus disesuaikan dengan
petunjuk pada lebel atau resep dokter hewan agar tidak terjadi hal negatif. 3).
Pengafkiran, yaitu tindakan atau usaha pemisahan ternak yang sudah tidak lagi
berproduktif. Usaha ini merupakan salah satu penanganan terhadap ternak yang
tidak produktif lagi dari ternak yang masih berproduktif. 4). Pembasmian
merupakan penanganan kesehatan terhadap ternak khususnya ternak sapi
dalam suatu populasi yang mengalami penyakit yang sangat berbahaya dan menular
dengan cara dibunuh lalu dibakar atau dikubur agar penyakit tersebut tidak
menyebar ke ternak lainnya.
Penanganan Ternak Sakit
Adapun tindakan yang harus dilakukan pada ternak yang sakit adalah sebagai
berikut:
- Hindari kontak dengan ternak sakit
- Isolasi ternak yang sakit agar tidak menular pada ternak yang sehat
- Lakukan vaksinasi
Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai
petunjuk. Pengawasan kesehatan bertujuan untuk mengetahui kondisi tubuh sapi
sehingga jika ada ternak yang sakit atau terluka dapat ditangani dengan cepat.
Pengontrolan kondisi sapi ini dilakukan setiap hari pada saat peternak memberikan makanan dengan cara mengamati keadaan sapi secara umum, jika terjadi perubahan dari
kondisi sapi misalnya, sapi menyendiri, tidak mau makan meskipun disediakan
makanan.
III.
MATERI DAN METODE
Waktu dan
tempat
Kegiatan pelaksaan PKL dilaksanakan pada tanggal 30 September sampai dengan 13 Oktober 2013. Kegiatan
tersebut berlangsung di Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, JAWA TIMUR.
1. Retensi
plasenta
retensi plasentaRetensi
Plasenta adalah kejadian patologi dimana selaput fetus tidak keluar dari alat
kelamin induknya dalam waktu 1–12 jam setelah kelahiran anaknya. Jika
pengeluaran fetus membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu tersebut, maka
hal tersebut harus dipandang sebagai suatu keadaan tidak normal atau patologi.
pada sapi retensi plasenta dapat berlangsung selama 4 – 8 hari atau bahkan
lebih, bila tidak ada pertolongan. dalam keadaan demikian maka selaput fetus
sudah mengalami perubahan – perubahan berupa pembusukan di dalam saluran alat
kelamin betina khususnya di dalam uterus, hal ini dapat bersifat racun terhadap
uterus.
Etiologi
Pada dasarnya retensi
sekundinae atau retensi plasenta adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon
foetal dari kripta karankula maternal. Pada sapi, retensi plasenta dapat
disebabkan beberapa faktor yaitu: (1) Gangguan mekanis (hanya 0,3% kasusnya),
yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus, tetapi tidak dapat
terlepas dan keluar dari alat kelamin karena masuk dalam kornu uteri yang tidak
bunting, atau kanalis servikalis yang terlalu cepat menutup, sehingga selaput
fetus terjepit (2) Induk kekurangan kekuatan untuk mengeluarkan sekundinae
setelah melahirkan. Ini disebabkan adanya atoni uteri pasca melahirkan
(kasusnya 1–2%). Mungkin juga karena defisiensi hormon yang menstimulir
kontraksi uterus pada waktu melahirkan, seperti oksitosin atau estrogen. Atoni
uteri pasca melahirkan juga bisa disebabkan oleh berbagai penyakit seperti
penimbunan cairan dalam selaput fetus, torsio uteri, kembar, distokia dan
kondisi patologik lainnya , (3) gangguan pelepasan sekundinae yang berasal dari
karankula induk. Ini adalah kasus yang paling sering terjadi dan dapat mencapai
98%, (4) Avitaminosa–A menyebabkan retensi plasenta, karena kemungkinan besar
vitamin A perlu untuk mempertahankan kesehatan dan resistensi epitel uterus dan
plasenta. Retensi plasenta terjadi pada 69% sapi dari suatu kelompok ternak
yang diberikan makanan dengan kadar karoten yang rendah
Gejala
Gejala pertama yang tampak adalah adanya selaput fetus yang menggantung diluar alat kelamin 12 jam atau lebih sesudah kelahiran normal, abortus, atupun distokia. Kadang–kadang selaput fetus tidak keluar melewati vulva tapi tetap menetap dalam uterus dan vagina. Pemeriksaan terhadap selaput fetus sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk mengetahui apakah terjadi retensi atau tidak. Pemeriksaan melalui uterus dapat dilakukan dalam waktu 24–36 jam post partus. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak mungkin memasukkan tangan ke dalam uterus atau selaput fetus dalam servik. Adanya selaput fetus di dalam cervik cenderung menghambat kontraksi servik.
Sekitar 75–80% sapi dengan retensi sekundinae tidak menunjukkan tanda–tanda sakit. Sekitar 20-25% memperlihatkan gejala–gejala metritis seperti anorexia, depresi, suhu badan tinggi, pulsus meningkat dan berat badan turun.
Gejala pertama yang tampak adalah adanya selaput fetus yang menggantung diluar alat kelamin 12 jam atau lebih sesudah kelahiran normal, abortus, atupun distokia. Kadang–kadang selaput fetus tidak keluar melewati vulva tapi tetap menetap dalam uterus dan vagina. Pemeriksaan terhadap selaput fetus sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk mengetahui apakah terjadi retensi atau tidak. Pemeriksaan melalui uterus dapat dilakukan dalam waktu 24–36 jam post partus. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak mungkin memasukkan tangan ke dalam uterus atau selaput fetus dalam servik. Adanya selaput fetus di dalam cervik cenderung menghambat kontraksi servik.
Sekitar 75–80% sapi dengan retensi sekundinae tidak menunjukkan tanda–tanda sakit. Sekitar 20-25% memperlihatkan gejala–gejala metritis seperti anorexia, depresi, suhu badan tinggi, pulsus meningkat dan berat badan turun.
Prognosa
Pada kasus tanpa komplikasi, angka kematian sangat sedikit dan tidak melebihi 1-2%. Apabila ditangani dengan baik dan cepat, maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak terganggu. Pada kasus retensi ini kerugian peternak bersifat ekonomis karena produksi susu yang menurun, kelambatan involusi dan konsepsi.
Pada kasus tanpa komplikasi, angka kematian sangat sedikit dan tidak melebihi 1-2%. Apabila ditangani dengan baik dan cepat, maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak terganggu. Pada kasus retensi ini kerugian peternak bersifat ekonomis karena produksi susu yang menurun, kelambatan involusi dan konsepsi.
Diagnosa
Diagnosa dilakukan berdasarkan adanya
sekundinae yang keluar dari alat kelamin. Bila sekundinae hanya tinggal sedikit
dalam alat kelamin, diagnosa dapat dilakukan dengan eksplorasi vaginal memakai
tangan dan dengan terabanya sisa sekundinae atau kotiledon yang masih teraba
licin karena masih terbungkus oleh selaput fetus. Karunkula yang sudah terbebas
dari lapisan sekundinae, akan teraba seperti beludru. Kalau tidak ada
sekundinae yang menggantung diluar kelamin, jangan dikatakan tidak ada retensi
sekundinarium. Mungkin sekundinae masih tersisa dan tersembunyi didalam rongga
uterus.
Pengobatan
Tujuan pengobatan adalah untuk mendorong
terjadi kontraksi uterus sehingga menyebabkan keluarnya plasenta.
Penyuntikan sub kutan atau intra muskuler
hormon oksitosin dengan dosis 100 IU adalah untuk pengobatan pada hewan besardomba,
kambing, dan babi dosisnya 30-50 IU, disuntikkan subkutan Anjing, kucing dengan
dosis 5-30 IU (menurut berat badan anjing dan kucing), disuntikkan subkutan.
Pengobatan lain pada sapi dengan preparat dietilstibestrol
dalam larutan minyak sebanyak 15-60 mg secara intramuskuler dan diulangi selama
4 hari.
Domba, kambing dan babi dosisnya adalah 0,5 mg suntikan intramuskuler.
Pertolongan lain dapat dilakukan dengan pengeluaran plasenta secara manual. Pelepasan plasenta dilakukan bila hubungan antara selaput fetus dan karunkula mudah dipisahkan. Dianjurkan pelepesan dilakukan sebelum 48 jam pasca lahir.
Bila ada infeksi, maka setelah mengeluarkan plasenta diadakan pencucian dengan larutan antiseptis intra uterina seperti rivanol 1% atau larutan antiseptis lain.
Untuk mencegah metritis setelah plasenta di keluarkan, pada sapi dapat diberikan kombinasi penicillin sebanyak 1 juta IU dan dihirostreptoimicin 1 gram yang dilarutkan dalam akuades sebanyak 50 ml, selanjutnya larutan antibiotika ini dimasukkan ke dalam uterus.
Domba, kambing dan babi dosisnya adalah 0,5 mg suntikan intramuskuler.
Pertolongan lain dapat dilakukan dengan pengeluaran plasenta secara manual. Pelepasan plasenta dilakukan bila hubungan antara selaput fetus dan karunkula mudah dipisahkan. Dianjurkan pelepesan dilakukan sebelum 48 jam pasca lahir.
Bila ada infeksi, maka setelah mengeluarkan plasenta diadakan pencucian dengan larutan antiseptis intra uterina seperti rivanol 1% atau larutan antiseptis lain.
Untuk mencegah metritis setelah plasenta di keluarkan, pada sapi dapat diberikan kombinasi penicillin sebanyak 1 juta IU dan dihirostreptoimicin 1 gram yang dilarutkan dalam akuades sebanyak 50 ml, selanjutnya larutan antibiotika ini dimasukkan ke dalam uterus.
Obat antibiotika lain pada retensi plasenta
karena infeksi, adalah klortetrasiklin (aureomicin) dari 500 mg dalam bentuk
bolus dan dimasukkan 2 bolus dalam uterus, oksitetrasiklin (terramisin) dalam
kapsul sebanyak 250 mg, dimasukkan empat kapsul dalam uterus.
2.
Hypocalcemia
Hypocalcemia merupakan suatu gangguan
metabolisme pada sapi perah dapat terjadi sebelum, sewaktu, atau beberapa jam
sampai dengan 72 jam setelah melahirkan. Kejadian ini ditandai dengan penurunan
yang tiba-tiba kadar calcium darah dari jumlah normal 9 - 10 mg per 100 m1
menjadi 3 - 7 mg per 100 m1 darah. Calcium di dalam tubuh diperlukan untuk
pengaturan mekanisme tubuh, pertumbuhan dan r~produksi. Pengaturan calcium di
dalam tubuh melibatkan beberapa faktor yaitu hormon parathyroid,
thyrocalcitonin dan vitamin D. Kekurangan calcium dapat disebabkan oleh
berbagai faktor, tetapi yang utama adalah karena dibutuhkannya sejumlah besar
calcium untuk laktasi. Penyebab hypocalcemia yang sebenarnya belum diketahui
tetapi faktor yang mendorong terjadinya hypocalcemia ada beberapa macam yaitu
umur, kepekaan ras, ketidakseimbangan ransum, produksi susu tinggi, partus dan
stres. Gejala yang terlihat adalah nafsu makan menurun atau sapi tidak mau
makan sarna sekali, jatuh dan tidak mampu untuk berdiri meskipun ada usaha
untuk berdiri. Pada kondisi yang sangat parah ditandai dengan kembung, hewan
berbaring pada sternum dengan kepala ditarik ke arah belakang dan menyandarkan
pada bahunya, hewan menjadi tidak sadarkan diri dan koma. Namun pada kasus di
lapangan yang sering terjadi adalah hewan ditemukan telah berbaring dilantai
kandang disusul dengan kembung dan jika tidak segera ditangani dapat berakhir
dengan kematian. Untuk mencegah teIjadinya hypocalcemia dapat dilakukan dengan
pemberian ransum dengan kandungan calcium yang rendah disertai phosphor yang
tinggi selama masa kering kandang, mempertahankan nafsu makan pada waktu
me1ahirkan dan pemberian vitamin D dosis tinggi. Berdasarkan hasH wawancara
dengan 100 peternak sampel diketahui sebanyak 34 peternak mengatakan sapinya
pernah menderita hypocalcemia. Dari 34 peternak tersebut, terdapat 49 ekor sapi
yang pernah mengalami hypocalcemia. Kejadian paling sering teIjadi beberapa jam
setelah melahirkan (77,5 %) dan hypocalcemia paling banyak terjadi pada laktasi
ketiga (44,9 %). Pengobatan yang biasa dilakukan adalah suntikan preparat
calcium yaitu calcitad 50 atau calcidex® plus. HasH pengobatan menunjukkan 46,9
% dapat sembuh meskipun beberapa sapi berdiri dalam waktu yang lama. Kegagalan
pengobatan dapat terjadi karena adanya komplikasi penyakit lain, keterlambatan
pengobatan serta tidak dilakukan alternatif pengobatan lain. Sedangkan
keberhasilan pengobatan hypocalcemia tidak terlepas dari kesadaran peternak
untuk segera melaporkan kejadian penyakit ini dan keahlian dari petugas
kesehatan hewan dalam mendiagnosa yang cepat dan tepat, sehingga kerugian
akibat hypocalcemia dapat ditekan.
3.
Prolaps Uteri
Prolaps uteri adalah keluarnya
uterus, vagina dan servik, menggantung keluar melalui vulva (Litbang Deptan).
Kondisi ini sering terjadi paling umum pada sapi dan domba (The Merck
Veterinary Manual). Pada sapi dan domba, kondisi ini biasanya terlihat
pada betina dewasa yang sedang bunting trimester akhir. Faktor predisposisinya
termasuk tekanan intra-abdominal yang meningkat, terkait dengan peningkatan
ukuran uterus yang berisi fetus, selain itu adanya lemak intra-abdominal, atau
distensi rumen yang cenderung berada di atas selama relaksasi dan melemahnya
lingkar pelvis serta struktur jaringan lunak terkait di sekitar saluran pelvis
dan perineum yang diperantarai meningkatnya konsentrasi estrogen dan relaxin
selama kebuntingan akhir. Tekanan intra-abdominal meningkat pada hewan yang
rebah (The Merck Veterinary Manual).
Prolaps uteri juga sering terjadi
segera atau beberapa jam setelah melahirkan. Kesulitan melahirkan yang
menyebabkan iritasi atau kelukaan saluran kelahiran eksternal dan tekanan
berlebih yang diberikan ketika menarik pedet dapat menyebabkan juga prolaps
uteri. Tonus uteri yang lemah atau masalah nutrisi dengan kadar kalsium darah
yang rendah juga dapat meningkatkan kejadian prolaps uteri.
PENANGANAN
Prolaps uteri adalah situasi
gawat darurat, dan sangat penting untuk segera ditangani.Penanganan pertama
yang dapat disarankan kepada peternak adalah hewan ditempatkan di kandang
dengan kemiringan 5 –15 cm lebih tinggi di bagian belakang. Kemudian
dokter hewan atau mantri hewan akan menangani dengan cara organ yang mengalami
prolaps dicuci dan di bilas, dan kandung kemih dikosongkan jika perlu.
Biasanya, pengosongan dapat dilakukan dengan mengangkat organ yang prolaps
untuk memungkinkan urethra menjadi lurus. Secara medis dapat dilakukan
dengan reposisi ke posisi semula, irigasi (pemasukan dilanjutkan dengan
pengeluaran) menggunakan Iodine Povidone 1%. Setelah semua organ masuk kembali,
dilakukan penjahitan pada vulva menggunakan teknik Buhner.
PENCEGAHAN
Dengan prolaps vagina, sangat
penting untuk menjaga kondisi tubuh sapi agar tidak memiliki lemak yang
berlebih selama trimester akhir kebuntingan. Jika pedet besar merupakan
kemungkinan penyeba prolaps, maka gunakan pejantan dengan berat lahir rendah
pada saat mengawinkan. Ketika menarik pedet, jangan menggunakan kekuatan yang
berlebihan. Pemberian mineral untuk sapi yang sedang bunting juga
direkomendasikan.
4.
Septicemia
epizootica
Bakteri
Pasteurella biasanya diikuti dengan hewan yang diserangnya misalnya pada sapi
P. boviseptica, pada babi P. suiseptica, pada ayam P. aviseptica, pada kambing
atau domba P. oviseptica dan sebagainya. Selanjutnya pada tahun 1939 dibedakan
bakteri Pasteurella yang dapat menyebabkan hemolisa dan tidak, menjadi
Pasteurella hemolytica dan Pasteurella multocida (P. septica). Telah lama
diketahui bahwa bakteri Pasteurella dapat ditularkan dari satu hewan ke hewan
lainnya. Berdasarkan kenyataannya bahwa bakteri Pasteurella menunjukan bentuk koloni dan sifat yang
bermacam-macam, yaitu pertama berdasarkan mouse protection test dan yang kedua
berdasarkan atas sifat-sifat antigen selubung bakteri (kapsul) dalam indirect
Haemaglutination Test (HA). Bakteri P. multocida yang berbentuk coccobacillus,
mempunyai ukuran yang sangat halus dan bersifat bipolar. Sifat bipolar ini
lebih jelas terlihat pada bakteri yang diisolasi dari penderita dan diwarnai
dengan cara giemsa. Bakteri yang bersifat gram negatif ini tidak membentuk
spora bersifat non-motil dan berkapsul yang dapat hilang karena penyimpanan
terlalu lama. Bentuk koloninya tidak selalu seragam, tergantung beberapa faktor,
misalnya media yang digunakan, umur bakteri dalam penyimpanan, frekuensi
pemindahan bakteri dan sebagainya. Koloni bakteri yang baru diisolasi dari
penderita atau hewan percobaan biasanya bersifat Mucoid dan kelama-lamaan
menjadi bentuk Smouth (halus) atau Rough (kasar). Koloni yang bersifat
iridescent pada penglihatan pada permukaan bawah cawan Petri biasanya bersifat
virulen. Bakteri P. multocida menimbulkan gas yang berbau.
Pencegahan dan Pengobatan Penyakit
Ngorok Pada Ternak Sapi
Penyakit Ngorok pada ternak sapi memang
penyakit akut, tetapi bukan berarti tidak dapat dicegah atau diobati. Cara
mencegah penyakit Ngorok atauSepticaemia Epizootica (SE) atau Haemorrhagic
Septicaemia (HS) adalah
sebagai berikut :
Jika pada satu wilayah sedang terjangkit penyakit
SE, hal pertama yang harus dilakukan adalah vaksinasi terhadap ternak yang
sehat dengan oil adjuvant. Sedangkan untuk wilayah yang pernah terkena, wajib
divaksinasi ulang (setidaknya setahun sekali), dengan dosis 3 ml secara
intramuskuler. Vaksinasi dilakukan pada saat tidak ada kejadian penyakit.
Lakukan karantina yang ketat terhadap ternak
sapi yang masuk dari daerah yang sedang terjangkit SE Segera bakar/kubur
bangkai ternak sapi yang terkena SE.
Ternak sapi yang terserang penyakit SE
kronis, harus dimusnahkan, Jika masih dalam taraf awal, sapi dapat dipotong dan
dagingnya bisa dikonsumsi, namun harus diperiksa oleh Dokter Hewan/ petugas
kesehatan terlebih dahulu. Akan tetapi jaringan tubuh dan jeroan yang
terserang, terutama paru paru harus dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur.
Selain itu, segera musnahkan semua pakan dan
minuman yang telah tercemar, dan sucihamakan semua peralatan yang ada
dikandang.
5.
Morf
pada kambing
Salah satu
penyakit yang sering dilaporkan menyerang ternak kambing dan Domba di
Indonesia adalah penyakit Ektima Kontagiosa (Orf). Nama lain dari penyakit Orf
: Contagious Pustular Dermatitis, Sore Mouth, Scabby Mouth, Bintumen, Puru,
Dakangan.
Orf adalah
dermatitis akut yang menyerang domba dan kambing, ditandai oleh terbentuknya
papula, vesikula, pustule dan keropeng pada kulit di daerah bibir, lubang
hidung, kelopak mata, putting susu, ambing, tungkai, perineal dan pada selaput
lender di rongga mulut.
Penyakit ini
disebabkan oleh virus yang termasuk dalam grup parapoks dari keluarga virus
poks (Andrewes et al., 1978). Virus ini sangat tahan terhadap pengaruh udara
luar dan kekeringan, tetap hidup di luar sel selama beberapa bulan, serta dapat
hidup beberapa tahun pada keropeng kulit. Pada suhu kamar, virus ini dapat
tahan selama 15 tahun. Penyakit ini pada umumnya menyerang hewan muda setelah
disapih, yaitu pada umur 3 – 5 bulan, tetapi kadang-kadang yang dewasa juga
terkena. Manusia dapat tertular penyakit ini dan memperlihatkan lesi kulit yang
berbentuk bulat disertai gatal.
Angka
kesakitan (morbiditas) penyakit ini dapat mencapai 90 % pada hewan muda, tetapi
angka kematiannya relative rendah. Kematian hewan biasanya diakibatkan oleh
infeksi sekunder bakteri.
Epizootiologi
Penyakit ini dikenal di Indonesia pada tahun 1931 (Bubberman dan Kraneveld). Pada tahun 1979, penyakit ini dilaporkan di Yogyakarta, Kudus, Banyuwangi, Pasaman, Karangasem, Negara dan Medan.
Penyakit ini dikenal di Indonesia pada tahun 1931 (Bubberman dan Kraneveld). Pada tahun 1979, penyakit ini dilaporkan di Yogyakarta, Kudus, Banyuwangi, Pasaman, Karangasem, Negara dan Medan.
Orf hanya menyerang kambing dan domba. Penyakit ini
menimbulkan kekebalan yang berjangka waktu lama, oleh karenanya pada
daerah-daerah enzootic penyakit ini ditemukan pada hewan muda, sedangkan di
daerahdaerah yang baru pertama kali diserang, penyakit ini ditemukan pada hewan
dari segala umur.
Cara Penularan
Cara penularan terjadi melalui kontak, melalui luka-luka
kulit waktu menyusui, kontak kelamin, atau kontak dengan bahan-bahan yang
mengandung virus penyakit ini. Penularan pada manusia juga terjadi melalui
kontak dengan hewan yang sakit atau bahan-bahan yang tercemar oleh penyakit
ini.
Gejala Klinik
Masa inkubasi berlangsung selama 2 – 3 hari. Mula-mula
terbentuk papula, vesikula atau pustule pada daerah sekitar mulut. Vesikula
hanya terlihat selama beberapa jam saja, kemudian pecah/ Isi vesikula ini
berwarna putih kekuningan. Kira-kira pada hari ke 10 terbentuk keropeng tebal
dan berwarna keabu-abuan. Bila lesi di mulut luas, maka hewan sulit makan dan
menjadi kurus. Terjadi peradangan pada kulit sekitar mulut, kelopak mata, alat
genital, ambing pada hewan yang sedang menyusui dan medial kaki, pada tempat
yang jarang ditumbuhi bulu.
Selanjutnya peradangan ini berubah menjadi eritema,
lepuh-lepuh pipih mengeluarkan cairan, membentuk kerak-kerak. yang mengelupas
setelah 1 – 2 minggu kemudian. Pada selaput lendir mulut yang terserang, tidak
terjadi pergerakan. Apabila lesi tersebut hebat, maka pada bibir yang terserang
terdapat kelainan yang menyerupai bunga kool.
Kalau tidak terkena Orf dan infeksi sekunder, lesi-lesi ini
biasanya sembuh setelah penyakit tersebut berlangsung 4 minggu.
Pada hewan muda, keadaan ini bias sangat mengganggu,
sehingga dapat menimbulkan kematian. Selain itu, adanya infeksi sekunder,
memperhebat keparahan penyakit.
Pada bedah bangkai, tidak terlihat adanya kelainan-kelainan menyolok pada alat tubuh bagian bagian dalam, kecuali kelainan-kelainan pada kulit.
Pada manusia, gejala penyakit ini berupa lepuh-lepuh pada tangan dan lengan. Lesi ini kemudian mengering serta mengeras estela 2– 3 minggu.
Pada bedah bangkai, tidak terlihat adanya kelainan-kelainan menyolok pada alat tubuh bagian bagian dalam, kecuali kelainan-kelainan pada kulit.
Pada manusia, gejala penyakit ini berupa lepuh-lepuh pada tangan dan lengan. Lesi ini kemudian mengering serta mengeras estela 2– 3 minggu.
Diagnosa banding
Penyakit yang mirip dengan Orf adalah cacar pada kambing
dan domba. Pada penyakit cacar lesi biasanya mulai dengan haemoragik dan
terjadi pada kulit bagian luar, serta ada tendensi meluas keseluruh tubuh,
termasukke organ-organ tubuh bagian dalam. Dengan mikroskop electron, kedua
jenis virus tadi dapat dibedakan. Pada cacar kambing, lesi yang terjadi tidak
separah seperti pada cacar domba, dan lebih mirip Orf.
Pencegahan penyakit
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pemberian
autovaksin pada daerahdaerah enzootic. Vaksin ini dibuat dari keropeng kulit
yang menderita, dibuat tepung halus dan disuspensikan menjadi 1 % dalam 50 %
gliserin. Vaksinasi pada hewan muda dilakukan berupa pencacaran kulit, diadakan
pada kulit di daerah sebelah dalam paha, sedangkan pada hewan dewasa dilakukan
disekitar leher, beberapa minggu sebelum masa penyusuan.
Anak domba biasanya divaksinasi pada umur 1 bulan dan
divaksinasi ulang pada umur 2 – 3 bulan agar memperoleh kekebalan yang
maksimal. Reaksi timbul 7 hari setelah vaksinasi dan kekebalan berlangsung
selama 8 – 28 bulan. Hewan di daerah endemic sebaiknya divaksinasi setiap
tahun. Vaksin harus diperlakukan hati-hati agar tidak menginfeksi tangan.
Sedang botol bekas awetan segera dibakar agar tidak mengkontaminasi tanah atau
tempat diadakan vaksinasi. Pada daerah yang belum dijangkiti penyakit ini,
tidak dianjurkan mengadakan vaksinasi. Karena Orf dapat menular pada manusia,
maka pada waktu vaksinasi harus memakai sarung tangan.
Pengendalian dan pemberantasan
Pengendalian dan pemberantasan
Hewan yang menunjukkan gejala sakit segera dipisahkan dari
hewan yang sehat, agar perluasan penyakit dapat dibatasi. Di samping itu,
tempat penggembalaan yang tertulari sebaiknya tidak dipakai lagi untuk jangka
waktu lama, mengingat bahwa virus Orf masih dapat hidup beberapa bulan di udara
luar. Daerah sekitar terjangkit segera diberi vaksinasi massal agar penyakit
dapat dikendalikan dan tidak menjalar lebih luas. Hewan yang mati karena
penyakit ini segera dibakar atau dikubur dalam.
Pengobatan
Hewan yang sakit dapat diobati dengan antibiotic berspektrum luas untuk infeksi sekunder. Di samping itu dapat juga diberikan multivitamin agar kondisi tubuh dapat diperbaiki. Sedang pada kulit yang sakit dapat diberikan pengobatan lokal dengan salep atau jood tincture.
Pengobatan
Hewan yang sakit dapat diobati dengan antibiotic berspektrum luas untuk infeksi sekunder. Di samping itu dapat juga diberikan multivitamin agar kondisi tubuh dapat diperbaiki. Sedang pada kulit yang sakit dapat diberikan pengobatan lokal dengan salep atau jood tincture.
Kambing yang sakit sebaiknya dipisahkan sendiri dan diberi
pakan rumput segar dan lunak. Hewan muda yang telah sembuh,menjadi kebal seumur
hidup.Mengingat bahwa penyakit ini dapatmenular ke manusia, sebaiknya daging
yang berasal dari hewan sakit tidak untuk dikonsumsi. Karena itu pemotongan
hewan sakit tidak diperbolehkan.
Pemotongan hewan yang sakit atau tersangka sakit tidak dilarang dengan syarat harus di bawah pengawasan dokter hewan yang berwenang.
Pemotongan hewan yang sakit atau tersangka sakit tidak dilarang dengan syarat harus di bawah pengawasan dokter hewan yang berwenang.
Kesimpulan
·
Kesimpulan yang dapat diambil
dari Praktek Kerja Lapangan di Kecamatan Kandat adalah tata laksana
pemeliharaan ternak sudah dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari
beberapa aspek diantaranya pengadaan pakan, pengelolaan ternak, pertambahan
bobot badan harian, sanitasi, pengendalian penyakit dan sistem perkandangannya.
·
Masih berkurangnya petugas
puskeswan di Kecamatan Kandat yang mempunyai beberapa desa sehingga tidak semua
hewan dapat lakukan peliharaann kesehatan secara maksimal karena terkendali
kurangnya tenaga medis.
·
Penduduk sekitar Kecamatan
Kandat mulai berkurang populasi ternak karena masyarakat memelihara ternak
hanya sebagai sampingan dan beralih ke profesi selain berternak sapi potong.
·
Kesehatan ternak sapi potong di
Kecamatan Kandat mulai meningkat menuju lebih baik sesuai data yang ada di
Puskeswan lebih baik dari tahun ke tahun.
VI.
DAFTAR PUSTAKA
http://powerschool-reog.wix.com/powerschoolband
BalasHapus