Sabtu, 08 Februari 2014

Laporan PKL Koas Sapi Potong



I.                   PENDAHULUAN

Ternak sapi potong adalah salah satu jenis ternak penghasil daging yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan penting artinya bagi kehidupan masyarakat, sebab ternak bisa menghasilkan berbagai macam produk guna mencukupi kebutuhan manusia, terutama sebagai bahan pangan berupa daging, disamping hasil ikutan lain seperti pupuk kandang, kulit dan tulang.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat  akan produk asal ternak yang terus meningkat sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pangan yang bergizi, maka upaya yang dilakukan adalah dengan memacu peningkatan produksi melalui  budidaya.
 Budidaya peternakan perlu dilakukan karena dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan masyarakat tetapi dalam usaha tersebut terdapat salah satu persoalan sampingan yang patut diperhatikan yakni limbah ternak. Limbah ternak terdiri dari feses, urine dan sisa pakan. Apabila limbah tersebut tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan pencemaran lingkungan seperti pencemaran udara, air, tanah dan sebagai media berkembangnya penyakit yang pada akhirnya akan menggangu usaha pemeliharaan ternak dan menyebabkan berbagai kerugian (Chalik, 2009).
     
1.      Meningkatkan kemampuan dan pemahaman mahasiswa mengenai Kesehatan Sapi potong.
2.      Meningkatkan kerjasama antar perguruan tinggi dengan farm terkait (Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dengan PUSKESWAN Kandat ).
3.      Mengetahui dan melaksanakan managemen serta penanganan penyakit unggas di Kecamatan Kandat ,Kabupaten Kediri.
1.      Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kesehatan peternakan Sapi potong.
2.      Memperoleh informasi tentang kesehatan ruminansia khususnya sapi potong.

. 

II.                TINJAUAN PUSTAKA

Perawatan Kondisi Badan Sapi
Dalam usaha pemeliharaan ternak pencegahan penyakit lebih diutamakan  dari pada pengobatan karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan tidak menjamin keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Faktor penting yang harus diperhatikan untuk menjaga kesehatan ternak yaitu sanitasi, pemberian pakan berkualitas dan vaksinasi.

1. Sanitasi
Sanitasi merupakan penjagaan kesehatan ternak lewat kebersihan kandang, ternak, peralatan dan lingkungan. Kegiatan memandikan ternak terlihat sepele namun jika tidak ditangani secara rutin kerugian yang diakibatkan cukup besar.
Memandikan dalam hal ini tidak hanya dalam arti membersihkan dari kotoran yang melekat dibadan tapi juga sekaligus dilakukan pengobatan eksternal terhadap kuku, parasit, jamur, kudis, dan lain - lain yang sifatnya mengganggu kesehatan kulit. Untuk memandikan ternak sapi ini perlu disediakan fasilitas seperti dipping atau spraying. Akan tetapi hanya tindakan spraying yang sering dilakukan di peternakan tersebut, dan dipping tidak dilakukan dikarenakan tidak memiliki bak untuk memandikan ternak sapi. Dipping merupakan tindakan menyelamatkan ternak sapi ke dalam  ternak sapi yang berisi air dan zat kimia pembunuh eksternal parasit. Sapi akan berenang sepanjang bak tersebut dan badannya akan basah oleh air yang mengandung zat kimia.
   Spraying adalah tindakan menyemprotkan zat kimia pembunuh eksternal parasit ke badan sapi secara mekanis maupun manual. Tujuan Dipping dan spraying pada dasarnya adalah sama yakni unutk membunuh eksternal parasit yang terdapat pada badan sapi. Akan tetapi, penggunaan dipping lebih ekonomis kerana cairan zat kimia dapat digunakan berulang-ulang, tetapi perlu diperhatikan apabila hujan turun dosis zat kimia akan menurun dan tidak efektif lagi akibat bertambahnya air. Keuntungan spraying adalah tidak berubahnya dosis zat kimia. Selain itu, penyemprotan dapat mencapai bagian tubuh yang mungkin terlewat apabila dilakukan dengan cara dipping, misalnya bagian telinga, dasar tanduk, dan bagian tepi lainnya.
   Lantai kandang diupayakan selalu dalam kondisi bersih dan kering, sirkulasi udara terjamin dan ruangan harus mendapat sinar matahari pagi. Selain itu peralatan makan dan minum harus dicuci setiap hari hingga tidak memberi peluang bagi penyebaran penyakit. Lingkungan sekitar kandang pun harus dibuat parit agar terbebas dari genangan air atau lembab. Selain itu kandang dan peralatannya harus didesinfektan minimal dua bulan sekali.
    Di peternakan kandang milik kelompok tani ini kebersihan kandang dan sekitarnya telah dijaga dengan baik sehingga selalu dalam keadaan bersih, lantai kandangnya pun sudah diupayakan dalam keadaan kering. Namun yang belum dilakukan ialah memandikan ternak hal ini akhirnya berdampak pada kesehatan ternak, badan ternak banyak dihinggapi parasit eksternal yang akhirnya menggigit tubuhnya kalau tidak diperhatikan dengan benar maka gigitan itu lama kelamaan akan menjadi luka akibat dari ini kualitas kulitnya jelek sehingga  nilai jual kulit akan rendah. Dampak lain yang ditimbulkan karena tubuh ternak banyak dihinggapi parasit adalah waktu yang seharusnya digunakan ternak untuk makan jadi terbagi karena ternak sibuk menggaruk-garuk tubuhnya.

2. Pakan
        Pemberian pakan berkualitas rendah dan tidak memenuhi kandungan gizi dapat mengakibatkan defisiensi pada ternak, sebaliknya pemberian pakan berkualitas tinggi akan meningkatkan produktivitas dan mencegah adanya penyakit. 

3. Penanganan Kesehatan Ternak
     Penanganan kesehatan ternak dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pencegahan, pengobatan, pengafkiran dan pembasmian.  1). Vaksinasi dilakukan untuk ternak yang sehat baik yang sementara dipelihara maupun untuk ternak yang baru didatangkan dari tempat lain. Kegiatan vaksinasi dilakukan untuk mencegah agar ternak tidak terserang penyakit terutama penyakit yang penyebabnya virus. Hal – hal yang patut diperhatikan saat melaksanakan vaksinasi yaitu vaksin yang digunakan, alat yang digunakan, vaksinator dan ternak yang akan divaksin. Ke empat faktor tersebut harus diperhatikan dan jangan satupun diabaikan. 2). Pengobatan, yaitu usaha memberikan obat kepada ternak yang sakit hingga ternak menjadi sembuh dan berproduksi. Pemberian obat harus disesuaikan dengan petunjuk pada lebel atau resep dokter hewan agar tidak terjadi hal negatif. 3). Pengafkiran, yaitu tindakan atau usaha pemisahan ternak yang sudah tidak lagi berproduktif. Usaha ini merupakan salah satu penanganan terhadap ternak yang tidak produktif lagi dari ternak yang masih berproduktif. 4). Pembasmian merupakan penanganan kesehatan terhadap ternak khususnya ternak sapi  dalam suatu populasi yang mengalami penyakit yang sangat berbahaya dan menular dengan cara dibunuh lalu dibakar atau dikubur agar penyakit tersebut tidak menyebar ke ternak lainnya.

Penanganan Ternak Sakit
Adapun tindakan yang harus dilakukan pada ternak yang sakit adalah sebagai berikut:
  • Hindari kontak dengan ternak sakit
  • Isolasi ternak yang sakit agar tidak menular pada ternak yang sehat
  • Lakukan vaksinasi
                    Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk. Pengawasan kesehatan bertujuan untuk mengetahui kondisi tubuh sapi sehingga jika ada ternak yang sakit atau terluka dapat ditangani dengan cepat. Pengontrolan kondisi sapi ini dilakukan setiap hari pada saat peternak memberikan makanan dengan cara mengamati keadaan sapi secara umum, jika terjadi perubahan dari kondisi sapi misalnya, sapi menyendiri, tidak mau makan meskipun disediakan makanan.



III.               MATERI DAN METODE

Waktu dan tempat
Kegiatan pelaksaan PKL dilaksanakan pada tanggal 30 September sampai dengan 13 Oktober 2013. Kegiatan tersebut berlangsung di Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, JAWA TIMUR.



1.      Retensi plasenta
retensi plasentaRetensi Plasenta adalah kejadian patologi dimana selaput fetus tidak keluar dari alat kelamin induknya dalam waktu 1–12 jam setelah kelahiran anaknya. Jika pengeluaran fetus membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu tersebut, maka hal tersebut harus dipandang sebagai suatu keadaan tidak normal atau patologi. pada sapi retensi plasenta dapat berlangsung selama 4 – 8 hari atau bahkan lebih, bila tidak ada pertolongan. dalam keadaan demikian maka selaput fetus sudah mengalami perubahan – perubahan berupa pembusukan di dalam saluran alat kelamin betina khususnya di dalam uterus, hal ini dapat bersifat racun terhadap uterus.
Etiologi
Pada dasarnya retensi sekundinae atau retensi plasenta adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon foetal dari kripta karankula maternal. Pada sapi, retensi plasenta dapat disebabkan beberapa faktor yaitu: (1) Gangguan mekanis (hanya 0,3% kasusnya), yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus, tetapi tidak dapat terlepas dan keluar dari alat kelamin karena masuk dalam kornu uteri yang tidak bunting, atau kanalis servikalis yang terlalu cepat menutup, sehingga selaput fetus terjepit (2) Induk kekurangan kekuatan untuk mengeluarkan sekundinae setelah melahirkan. Ini disebabkan adanya atoni uteri pasca melahirkan (kasusnya 1–2%). Mungkin juga karena defisiensi hormon yang menstimulir kontraksi uterus pada waktu melahirkan, seperti oksitosin atau estrogen. Atoni uteri pasca melahirkan juga bisa disebabkan oleh berbagai penyakit seperti penimbunan cairan dalam selaput fetus, torsio uteri, kembar, distokia dan kondisi patologik lainnya , (3) gangguan pelepasan sekundinae yang berasal dari karankula induk. Ini adalah kasus yang paling sering terjadi dan dapat mencapai 98%, (4) Avitaminosa–A menyebabkan retensi plasenta, karena kemungkinan besar vitamin A perlu untuk mempertahankan kesehatan dan resistensi epitel uterus dan plasenta. Retensi plasenta terjadi pada 69% sapi dari suatu kelompok ternak yang diberikan makanan dengan kadar karoten yang rendah
Gejala
Gejala pertama yang tampak adalah adanya selaput fetus yang menggantung diluar alat kelamin 12 jam atau lebih sesudah kelahiran normal, abortus, atupun distokia. Kadang–kadang selaput fetus tidak keluar melewati vulva tapi tetap menetap dalam uterus dan vagina. Pemeriksaan terhadap selaput fetus sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk mengetahui apakah terjadi retensi atau tidak. Pemeriksaan melalui uterus dapat dilakukan dalam waktu 24–36 jam post partus. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak mungkin memasukkan tangan ke dalam uterus atau selaput fetus dalam servik. Adanya selaput fetus di dalam cervik cenderung menghambat kontraksi servik.
Sekitar 75–80% sapi dengan retensi sekundinae tidak menunjukkan tanda–tanda sakit. Sekitar 20-25% memperlihatkan gejala–gejala metritis seperti anorexia, depresi, suhu badan tinggi, pulsus meningkat dan berat badan turun.
Prognosa
Pada kasus tanpa komplikasi, angka kematian sangat sedikit dan tidak melebihi 1-2%. Apabila ditangani dengan baik dan cepat, maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak terganggu. Pada kasus retensi ini kerugian peternak bersifat ekonomis karena produksi susu yang menurun, kelambatan involusi dan konsepsi.
Diagnosa
Diagnosa dilakukan berdasarkan adanya sekundinae yang keluar dari alat kelamin. Bila sekundinae hanya tinggal sedikit dalam alat kelamin, diagnosa dapat dilakukan dengan eksplorasi vaginal memakai tangan dan dengan terabanya sisa sekundinae atau kotiledon yang masih teraba licin karena masih terbungkus oleh selaput fetus. Karunkula yang sudah terbebas dari lapisan sekundinae, akan teraba seperti beludru. Kalau tidak ada sekundinae yang menggantung diluar kelamin, jangan dikatakan tidak ada retensi sekundinarium. Mungkin sekundinae masih tersisa dan tersembunyi didalam rongga uterus.
Pengobatan
Tujuan pengobatan adalah untuk mendorong terjadi kontraksi uterus sehingga menyebabkan keluarnya plasenta.
Penyuntikan sub kutan atau intra muskuler hormon oksitosin dengan dosis 100 IU adalah untuk pengobatan pada hewan besardomba, kambing, dan babi dosisnya 30-50 IU, disuntikkan subkutan Anjing, kucing dengan dosis 5-30 IU (menurut berat badan anjing dan kucing), disuntikkan subkutan.
Pengobatan lain pada sapi dengan preparat dietilstibestrol dalam larutan minyak sebanyak 15-60 mg secara intramuskuler dan diulangi selama 4 hari.
Domba, kambing dan babi dosisnya adalah 0,5 mg suntikan intramuskuler.
Pertolongan lain dapat dilakukan dengan pengeluaran plasenta secara manual. Pelepasan plasenta dilakukan bila hubungan antara selaput fetus dan karunkula mudah dipisahkan. Dianjurkan pelepesan dilakukan sebelum 48 jam pasca lahir.
Bila ada infeksi, maka setelah mengeluarkan plasenta diadakan pencucian dengan larutan antiseptis intra uterina seperti rivanol 1% atau larutan antiseptis lain.
Untuk mencegah metritis setelah plasenta di keluarkan, pada sapi dapat diberikan kombinasi penicillin sebanyak 1 juta IU dan dihirostreptoimicin 1 gram yang dilarutkan dalam akuades sebanyak 50 ml, selanjutnya larutan antibiotika ini dimasukkan ke dalam uterus.
Obat antibiotika lain pada retensi plasenta karena infeksi, adalah klortetrasiklin (aureomicin) dari 500 mg dalam bentuk bolus dan dimasukkan 2 bolus dalam uterus, oksitetrasiklin (terramisin) dalam kapsul sebanyak 250 mg, dimasukkan empat kapsul dalam uterus.

2.      Hypocalcemia
          Hypocalcemia merupakan suatu gangguan metabolisme pada sapi perah dapat terjadi sebelum, sewaktu, atau beberapa jam sampai dengan 72 jam setelah melahirkan. Kejadian ini ditandai dengan penurunan yang tiba-tiba kadar calcium darah dari jumlah normal 9 - 10 mg per 100 m1 menjadi 3 - 7 mg per 100 m1 darah. Calcium di dalam tubuh diperlukan untuk pengaturan mekanisme tubuh, pertumbuhan dan r~produksi. Pengaturan calcium di dalam tubuh melibatkan beberapa faktor yaitu hormon parathyroid, thyrocalcitonin dan vitamin D. Kekurangan calcium dapat disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi yang utama adalah karena dibutuhkannya sejumlah besar calcium untuk laktasi. Penyebab hypocalcemia yang sebenarnya belum diketahui tetapi faktor yang mendorong terjadinya hypocalcemia ada beberapa macam yaitu umur, kepekaan ras, ketidakseimbangan ransum, produksi susu tinggi, partus dan stres. Gejala yang terlihat adalah nafsu makan menurun atau sapi tidak mau makan sarna sekali, jatuh dan tidak mampu untuk berdiri meskipun ada usaha untuk berdiri. Pada kondisi yang sangat parah ditandai dengan kembung, hewan berbaring pada sternum dengan kepala ditarik ke arah belakang dan menyandarkan pada bahunya, hewan menjadi tidak sadarkan diri dan koma. Namun pada kasus di lapangan yang sering terjadi adalah hewan ditemukan telah berbaring dilantai kandang disusul dengan kembung dan jika tidak segera ditangani dapat berakhir dengan kematian. Untuk mencegah teIjadinya hypocalcemia dapat dilakukan dengan pemberian ransum dengan kandungan calcium yang rendah disertai phosphor yang tinggi selama masa kering kandang, mempertahankan nafsu makan pada waktu me1ahirkan dan pemberian vitamin D dosis tinggi. Berdasarkan hasH wawancara dengan 100 peternak sampel diketahui sebanyak 34 peternak mengatakan sapinya pernah menderita hypocalcemia. Dari 34 peternak tersebut, terdapat 49 ekor sapi yang pernah mengalami hypocalcemia. Kejadian paling sering teIjadi beberapa jam setelah melahirkan (77,5 %) dan hypocalcemia paling banyak terjadi pada laktasi ketiga (44,9 %). Pengobatan yang biasa dilakukan adalah suntikan preparat calcium yaitu calcitad 50 atau calcidex® plus. HasH pengobatan menunjukkan 46,9 % dapat sembuh meskipun beberapa sapi berdiri dalam waktu yang lama. Kegagalan pengobatan dapat terjadi karena adanya komplikasi penyakit lain, keterlambatan pengobatan serta tidak dilakukan alternatif pengobatan lain. Sedangkan keberhasilan pengobatan hypocalcemia tidak terlepas dari kesadaran peternak untuk segera melaporkan kejadian penyakit ini dan keahlian dari petugas kesehatan hewan dalam mendiagnosa yang cepat dan tepat, sehingga kerugian akibat hypocalcemia dapat ditekan.



3.      Prolaps Uteri
Prolaps uteri adalah keluarnya uterus, vagina dan servik, menggantung keluar melalui vulva (Litbang Deptan). Kondisi ini sering terjadi paling umum pada sapi dan domba (The Merck Veterinary Manual). Pada sapi dan domba, kondisi ini biasanya terlihat pada betina dewasa yang sedang bunting trimester akhir. Faktor predisposisinya termasuk tekanan intra-abdominal yang meningkat, terkait dengan peningkatan ukuran uterus yang berisi fetus, selain itu adanya lemak intra-abdominal, atau distensi rumen yang cenderung berada di atas selama relaksasi dan melemahnya lingkar pelvis serta struktur jaringan lunak terkait di sekitar saluran pelvis dan perineum yang diperantarai meningkatnya konsentrasi estrogen dan relaxin selama kebuntingan akhir. Tekanan intra-abdominal meningkat pada hewan yang rebah (The Merck Veterinary Manual).

Prolaps uteri juga sering terjadi segera atau beberapa jam setelah melahirkan. Kesulitan melahirkan yang menyebabkan iritasi atau kelukaan saluran kelahiran eksternal dan tekanan berlebih yang diberikan ketika menarik pedet dapat menyebabkan juga prolaps uteri. Tonus uteri yang lemah atau masalah nutrisi dengan kadar kalsium darah yang rendah juga dapat meningkatkan kejadian prolaps uteri. 

PENANGANAN
Prolaps uteri adalah situasi gawat darurat, dan sangat penting untuk segera ditangani.Penanganan pertama yang dapat disarankan kepada peternak adalah hewan ditempatkan di kandang dengan kemiringan 5 –15 cm lebih tinggi di bagian belakang. Kemudian dokter hewan atau mantri hewan akan menangani dengan cara organ yang mengalami prolaps dicuci dan di bilas, dan kandung kemih dikosongkan jika perlu. Biasanya, pengosongan dapat dilakukan dengan mengangkat organ yang prolaps untuk memungkinkan urethra menjadi lurus. Secara medis dapat dilakukan dengan reposisi ke posisi semula, irigasi (pemasukan dilanjutkan dengan pengeluaran) menggunakan Iodine Povidone 1%. Setelah semua organ masuk kembali, dilakukan penjahitan pada vulva menggunakan teknik Buhner. 

PENCEGAHAN
Dengan prolaps vagina, sangat penting untuk menjaga kondisi tubuh sapi agar tidak memiliki lemak yang berlebih selama trimester akhir kebuntingan. Jika pedet besar merupakan kemungkinan penyeba prolaps, maka gunakan pejantan dengan berat lahir rendah pada saat mengawinkan. Ketika menarik pedet, jangan menggunakan kekuatan yang berlebihan. Pemberian mineral untuk sapi yang sedang bunting juga direkomendasikan.

4.      Septicemia epizootica
          Bakteri Pasteurella biasanya diikuti dengan hewan yang diserangnya misalnya pada sapi P. boviseptica, pada babi P. suiseptica, pada ayam P. aviseptica, pada kambing atau domba P. oviseptica dan sebagainya. Selanjutnya pada tahun 1939 dibedakan bakteri Pasteurella yang dapat menyebabkan hemolisa dan tidak, menjadi Pasteurella hemolytica dan Pasteurella multocida (P. septica). Telah lama diketahui bahwa bakteri Pasteurella dapat ditularkan dari satu hewan ke hewan lainnya. Berdasarkan kenyataannya bahwa bakteri Pasteurella menunjukan bentuk koloni dan sifat yang bermacam-macam, yaitu pertama berdasarkan mouse protection test dan yang kedua berdasarkan atas sifat-sifat antigen selubung bakteri (kapsul) dalam indirect Haemaglutination Test (HA). Bakteri P. multocida yang berbentuk coccobacillus, mempunyai ukuran yang sangat halus dan bersifat bipolar. Sifat bipolar ini lebih jelas terlihat pada bakteri yang diisolasi dari penderita dan diwarnai dengan cara giemsa. Bakteri yang bersifat gram negatif ini tidak membentuk spora bersifat non-motil dan berkapsul yang dapat hilang karena penyimpanan terlalu lama. Bentuk koloninya tidak selalu seragam, tergantung beberapa faktor, misalnya media yang digunakan, umur bakteri dalam penyimpanan, frekuensi pemindahan bakteri dan sebagainya. Koloni bakteri yang baru diisolasi dari penderita atau hewan percobaan biasanya bersifat Mucoid dan kelama-lamaan menjadi bentuk Smouth (halus) atau Rough (kasar). Koloni yang bersifat iridescent pada penglihatan pada permukaan bawah cawan Petri biasanya bersifat virulen. Bakteri P. multocida menimbulkan gas yang berbau.
Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Ngorok Pada Ternak Sapi
Penyakit Ngorok pada ternak sapi memang penyakit akut, tetapi bukan berarti tidak dapat dicegah atau diobati. Cara mencegah penyakit Ngorok atauSepticaemia Epizootica (SE) atau Haemorrhagic Septicaemia (HS) adalah sebagai berikut :
Jika pada satu wilayah sedang terjangkit penyakit SE, hal pertama yang harus dilakukan adalah vaksinasi terhadap ternak yang sehat dengan oil adjuvant. Sedangkan untuk wilayah yang pernah terkena, wajib divaksinasi ulang (setidaknya setahun sekali), dengan dosis 3 ml secara intramuskuler. Vaksinasi dilakukan pada saat tidak ada kejadian penyakit.
Lakukan karantina yang ketat terhadap ternak sapi yang masuk dari daerah yang sedang terjangkit SE Segera bakar/kubur bangkai ternak sapi yang terkena SE.
Ternak sapi yang terserang penyakit SE kronis, harus dimusnahkan, Jika masih dalam taraf awal, sapi dapat dipotong dan dagingnya bisa dikonsumsi, namun harus diperiksa oleh Dokter Hewan/ petugas kesehatan terlebih dahulu. Akan tetapi jaringan tubuh dan jeroan yang terserang, terutama paru paru harus dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur.
Selain itu, segera musnahkan semua pakan dan minuman yang telah tercemar, dan sucihamakan semua peralatan yang ada dikandang.

5.      Morf pada kambing
          Salah satu penyakit yang sering dilaporkan  menyerang ternak kambing dan Domba di Indonesia adalah penyakit Ektima Kontagiosa (Orf). Nama lain dari penyakit Orf : Contagious Pustular Dermatitis, Sore Mouth, Scabby Mouth, Bintumen, Puru, Dakangan.
          Orf adalah dermatitis akut yang menyerang domba dan kambing, ditandai oleh terbentuknya papula, vesikula, pustule dan keropeng pada kulit di daerah bibir, lubang hidung, kelopak mata, putting susu, ambing, tungkai, perineal dan pada selaput lender di rongga mulut.
          Penyakit ini disebabkan oleh virus yang termasuk dalam grup parapoks dari keluarga virus poks (Andrewes et al., 1978). Virus ini sangat tahan terhadap pengaruh udara luar dan kekeringan, tetap hidup di luar sel selama beberapa bulan, serta dapat hidup beberapa tahun pada keropeng kulit. Pada suhu kamar, virus ini dapat tahan selama 15 tahun. Penyakit ini pada umumnya menyerang hewan muda setelah disapih, yaitu pada umur 3 – 5 bulan, tetapi kadang-kadang yang dewasa juga terkena. Manusia dapat tertular penyakit ini dan memperlihatkan lesi kulit yang berbentuk bulat disertai gatal.
          Angka kesakitan (morbiditas) penyakit ini dapat mencapai 90 % pada hewan muda, tetapi angka kematiannya relative rendah. Kematian hewan biasanya diakibatkan oleh infeksi sekunder bakteri.
Epizootiologi
Penyakit ini dikenal di Indonesia pada tahun 1931 (Bubberman dan Kraneveld). Pada tahun 1979, penyakit ini dilaporkan di Yogyakarta, Kudus, Banyuwangi, Pasaman, Karangasem, Negara dan Medan.
Orf hanya menyerang kambing dan domba. Penyakit ini menimbulkan kekebalan yang berjangka waktu lama, oleh karenanya pada daerah-daerah enzootic penyakit ini ditemukan pada hewan muda, sedangkan di daerahdaerah yang baru pertama kali diserang, penyakit ini ditemukan pada hewan dari segala umur.
Cara Penularan
Cara penularan terjadi melalui kontak, melalui luka-luka kulit waktu menyusui, kontak kelamin, atau kontak dengan bahan-bahan yang mengandung virus penyakit ini. Penularan pada manusia juga terjadi melalui kontak dengan hewan yang sakit atau bahan-bahan yang tercemar oleh penyakit ini.
Gejala Klinik
Masa inkubasi berlangsung selama 2 – 3 hari. Mula-mula terbentuk papula, vesikula atau pustule pada daerah sekitar mulut. Vesikula hanya terlihat selama beberapa jam saja, kemudian pecah/ Isi vesikula ini berwarna putih kekuningan. Kira-kira pada hari ke 10 terbentuk keropeng tebal dan berwarna keabu-abuan. Bila lesi di mulut luas, maka hewan sulit makan dan menjadi kurus. Terjadi peradangan pada kulit sekitar mulut, kelopak mata, alat genital, ambing pada hewan yang sedang menyusui dan medial kaki, pada tempat yang jarang ditumbuhi bulu.
Selanjutnya peradangan ini berubah menjadi eritema, lepuh-lepuh pipih mengeluarkan cairan, membentuk kerak-kerak. yang mengelupas setelah 1 – 2 minggu kemudian. Pada selaput lendir mulut yang terserang, tidak terjadi pergerakan. Apabila lesi tersebut hebat, maka pada bibir yang terserang terdapat kelainan yang menyerupai bunga kool.
Kalau tidak terkena Orf dan infeksi sekunder, lesi-lesi ini biasanya sembuh setelah penyakit tersebut berlangsung 4 minggu.
Pada hewan muda, keadaan ini bias sangat mengganggu, sehingga dapat menimbulkan kematian. Selain itu, adanya infeksi sekunder, memperhebat keparahan penyakit.
Pada bedah bangkai, tidak terlihat adanya kelainan-kelainan menyolok pada alat tubuh bagian bagian dalam, kecuali kelainan-kelainan pada kulit.
Pada manusia, gejala penyakit ini berupa lepuh-lepuh pada tangan dan lengan. Lesi ini kemudian mengering serta mengeras estela 2– 3 minggu.
Diagnosa banding
Penyakit yang mirip dengan Orf adalah cacar pada kambing dan domba. Pada penyakit cacar lesi biasanya mulai dengan haemoragik dan terjadi pada kulit bagian luar, serta ada tendensi meluas keseluruh tubuh, termasukke organ-organ tubuh bagian dalam. Dengan mikroskop electron, kedua jenis virus tadi dapat dibedakan. Pada cacar kambing, lesi yang terjadi tidak separah seperti pada cacar domba, dan lebih mirip Orf.
Pencegahan penyakit
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pemberian autovaksin pada daerahdaerah enzootic. Vaksin ini dibuat dari keropeng kulit yang menderita, dibuat tepung halus dan disuspensikan menjadi 1 % dalam 50 % gliserin. Vaksinasi pada hewan muda dilakukan berupa pencacaran kulit, diadakan pada kulit di daerah sebelah dalam paha, sedangkan pada hewan dewasa dilakukan disekitar leher, beberapa minggu sebelum masa penyusuan.
Anak domba biasanya divaksinasi pada umur 1 bulan dan divaksinasi ulang pada umur 2 – 3 bulan agar memperoleh kekebalan yang maksimal. Reaksi timbul 7 hari setelah vaksinasi dan kekebalan berlangsung selama 8 – 28 bulan. Hewan di daerah endemic sebaiknya divaksinasi setiap tahun. Vaksin harus diperlakukan hati-hati agar tidak menginfeksi tangan. Sedang botol bekas awetan segera dibakar agar tidak mengkontaminasi tanah atau tempat diadakan vaksinasi. Pada daerah yang belum dijangkiti penyakit ini, tidak dianjurkan mengadakan vaksinasi. Karena Orf dapat menular pada manusia, maka pada waktu vaksinasi harus memakai sarung tangan.

Pengendalian dan pemberantasan
Hewan yang menunjukkan gejala sakit segera dipisahkan dari hewan yang sehat, agar perluasan penyakit dapat dibatasi. Di samping itu, tempat penggembalaan yang tertulari sebaiknya tidak dipakai lagi untuk jangka waktu lama, mengingat bahwa virus Orf masih dapat hidup beberapa bulan di udara luar. Daerah sekitar terjangkit segera diberi vaksinasi massal agar penyakit dapat dikendalikan dan tidak menjalar lebih luas. Hewan yang mati karena penyakit ini segera dibakar atau dikubur dalam.

Pengobatan
Hewan yang sakit dapat diobati dengan antibiotic berspektrum luas untuk infeksi sekunder. Di samping itu dapat juga diberikan multivitamin agar kondisi tubuh dapat diperbaiki. Sedang pada kulit yang sakit dapat diberikan pengobatan lokal dengan salep atau jood tincture.
Kambing yang sakit sebaiknya dipisahkan sendiri dan diberi pakan rumput segar dan lunak. Hewan muda yang telah sembuh,menjadi kebal seumur hidup.Mengingat bahwa penyakit ini dapatmenular ke manusia, sebaiknya daging yang berasal dari hewan sakit tidak untuk dikonsumsi. Karena itu pemotongan hewan sakit tidak diperbolehkan.

Pemotongan hewan yang sakit atau tersangka sakit tidak dilarang dengan syarat harus di bawah pengawasan dokter hewan yang berwenang.



Kesimpulan
·         Kesimpulan yang dapat diambil dari Praktek Kerja Lapangan di Kecamatan Kandat adalah tata laksana pemeliharaan ternak sudah dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya pengadaan pakan, pengelolaan ternak, pertambahan bobot badan harian, sanitasi, pengendalian penyakit dan sistem perkandangannya.
·         Masih berkurangnya petugas puskeswan di Kecamatan Kandat yang mempunyai beberapa desa sehingga tidak semua hewan dapat lakukan peliharaann kesehatan secara maksimal karena terkendali kurangnya tenaga medis.
·         Penduduk sekitar Kecamatan Kandat mulai berkurang populasi ternak karena masyarakat memelihara ternak hanya sebagai sampingan dan beralih ke profesi selain berternak sapi potong.
·         Kesehatan ternak sapi potong di Kecamatan Kandat mulai meningkat menuju lebih baik sesuai data yang ada di Puskeswan lebih baik dari tahun ke tahun.


VI.              DAFTAR PUSTAKA

1 komentar: