Sabtu, 08 Februari 2014

Laporan PKL Koas Sapi Perah



I.           PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang

Ternak perah merupakan ternak yang secara genetis dilengkapi dengan organ-organ dan jaringan tubuh untuk memproduksi susu yang tinggi sebagai bahan pangan manusia. Susu merupakan bahan makanan yang mengandung semua zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, mengandung protein, lemak, dan karbohidrat yang seimbang, vitamin, dan mineral serta mengandung cukup banyak asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh.
Susu sebagai produk peternakan khususnya peternakan sapi perah yang semakin dirasakan peranannya didalam usaha pemenuhan gizi masyarakat yang merupakan salah satu sumber protein hewani. Usaha pemenuhan kebutuhan susu sebagai sumber protein tentunya harus diimbangi dengan usaha peningkatan produksi sehingga permintaan dapat terpenuhi dan terjadi pemerataan gizi di dalam masyarakat. Keberhasilan untuk mengembangkan dan memajukan peternakan sapi perah adalah meningkatkan populasi sapi perah dan produksi susu yang berkualitas sesuai dengan standar yang ditentukan.

1.2.            Tujuan Praktik Kerja Lapangan
            Mengetahui secara langsung kondisi usaha pemeliharaan ternak sapi perah di Desa Sendang Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung ditinjau dari kegiatan pemeliharaan dan kesehatannya.
1.3.         Kegunaan Kerja Praktik Lapangan
           Mendapatkan pengalaman dan peningkatan keterampilan kerja (skill) sehingga membuka wawasan tentang perkembangan kesehatan hewan khususnya sapi perah diluar lingkungan akademik.


II.        TINJAUAN PUSTAKA

2.1.             Pengamatan Kinerja Bibit
 Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan sapi yang berasal dari negeri Belanda, yaitu propinsi North Holland dan West Friesland. Sifat karakteristik FH adalah berwarna hitam putih, ada juga yang berwarna merah dan putih, merupakan sapi tipe besar dengan berat dewasa betina 540 sampai 580 kilogram dan sapi jantan mencapai 800 kilogram. Produksi susunya dapat mencapai 12.352 liter perlaktasi selama 300 hari dengan kadar lemak 3,7%, di Indonesia rata-rata produksi susu berkisar antara 2500 sampai 3000 kilogram perlaktasi (Hardjosubroto, 1994).
Abidin (2002), menyatakan bahwa sapi PFH betina dilahirkan dengan warna bulu putih kecokelatan dan abu-abu. Setelah dewasa warna cokelat berubah jadi hitam gelap, jantan berubah menjadi hitam putih. Seekor sapi perah dengan karakteristik sapi perah yang baik menampilkan fungsi produksi susu dan lemak susu untuk jangka waktu panjang dan lama (Blakely dan Bade, 1991).
Ciri-ciri sapi perah betina yang baik menurut Wahiduddin (2008) antara lain: Kepala panjang agak sempit. Leher panjang dan lebarnya sedang, besarnya gelambir sedang dan lipatan-lipatan kulit leher halus. Pinggang pendek dan lebar. Gumba, punggung dan pinggang merupakan garis lurus yang panjang. Kaki kuat, tidak pincang dan jarak antara paha lebar. Badan berbentuk segitiga, tidak terlalu gemuk dan tulang-tulang agak menonjol. Dada lebar dan tulang-tulang rusuk panjang serta lurus. Ambing besar, luas, memanjang kedepan kearah perut dan melebar sampai diantara paha. Produksi susu tinggi. Tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan setiap tahun beranak.
2.2.   Pemberian Pakan
Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga (Sugeng, 2001). Pakan penguat (konsentrat) adalah pakan yang mengandung serat kasar relatif rendah dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat ini meliputi bahan pakan yang berasal dari biji-bijian seperti jagung giling, menir, dedak, katul, bungkil kelapa, tetes, dan berbagai umbi. Fungsi pakan penguat adalah meningkatkan dan memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah (Sugeng, 2001). Menurut Darmono (1992) konsentrat adalah bahan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18%, berasal dari biji- bijian, hasil produk ikutan pertanian atau dari pabrik dan umbi- umbian.
Menurut Lubis (1992) pemberian pakan pada ternak sebaiknya diberikan dalam keadaan segar. Pemberian pakan yang baik diberikan dengan perbandingan 60 : 40 (dalam bahan kering ransum), apabila hijauan yang diberikan berkualitas rendah perbandingan itu dapat menjadi 55 : 45 dan hijauan yang diberikan berkualitas sedang sampai tinggi perbandingan itu dapat menjadi 64 : 36 (Siregar 2008). Suwarsono (1992), berpendapat bahwa dalam pemberian pakan kosentrat sebaiknya diberikan pada saat pagi dan sore hari.
Rasyaf (2004), menyatakan bahwa air merupakan komponen yang sangat penting untuk metabolisme tubuh, apabila ternak kekurangan air maka akan terjadi dehidrasi dan akan berakibat fatal bagi produktivitas ternak. Sudono dkk (2004), mengemukakan bahwa sapi perah yang sedang menyusui ( laktasi ) memerlukan makanan tambahan sekitar 25% hijauan dan kosentrat didalam ransum.

            Tabel 1. Kebutuhan Nutrien untuk Hidup Pokok Induk Laktasi
Bobot  Badan (kg)
Protein Kasar  (g/ekor)
ME (M.kall /ekor)
TDN  (kg/ekor)
Ca (g/ekor)
 P (g/ekor)
350
341
10,76
2,85
14
       11
400
373
11, 90
3,15
15
13
450
403
12,99
3,44
17
14
500
432
14,06
3,72
18
15
550
461
15,11
4,00
20
16
600
489
16,12
4,27
21
17
Sumber: Siregar, 1990




2.3.            Tatalakasana Pemeliharaan
2.3.1.      Pemeliharaan Pedet
Pedet yang baru lahir segera diberikan kolostrum, karena kolostrum mengandung zat kebal immuno lactoglobilin yang diberikan selama tujuh hari setelah dilahirkan. Jumlah susu yang di berikan pada pedet jantan sekitar seper delapan dari bobot badan. Sedangkan untuk pedet betina sepersepuluh dari bobot badan (Soedono 1990).
Siregar (1992) menyatakan bahwa, apabila pedet yang baru  lahir belum dapat bernafas, harus segera diberi pertolongan caranya adalah dengan menelentangkan pedet sedemikian rupa sehingga kaki-kakinya menghadap ke atas,  kemudian kedua kaki depannya dipegang dan digerak-gerakkan dengan serentak ke atas dan ke bawah berkali-kali sampai terlihat tanda-tanda bernafas.
Blakely dan Bade (1991), menyatakan bahwa tali pusar yang baru dipotong dan diberi yodium tinctur untuk mencegah masuknya bakteri ke dalam tubuh melalui tali pusar.

2.3.2.      Penanganan Sapi Kering
Soedono, (1990) menyatakan bahwa masa kering ideal yaitu 8  sampai  9 mingggu atau 56  sampai  63 hari. Pengeringan merupakan suatu masa dimana sapi perah tidah diperah susunya sama sekali. Caranya dengan pengurangan pakan konsentrat dan pemerahan berselang.
2.3.3.      Pemeliharaan Sapi Laktasi
Soedono (1990) menyatakan bahwa sapi yang sedang berproduksi hendaknya dibersihkan dan dimandikan supaya menghasilkan susu yang lebih bersih dan sapi lebih sehat. Kegiatan memandikan sapi yang baik adalah sebanyak dua kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore hari selama diadakannya pemerahan.
Syarif dan Sumoprastowo (1990) mengemukakan bahwa metode pemerahan yang baik adalah whole hand karena puting tidak akan menjadi panjang dan susu yang keluar dapat lebih banyak. Metode stripping pada awal pemerahan ditujukan agar air susu di dalam cistern atau rongga susu dapat turun ke bawah. Sedangkan pada akhir pemerahan untuk mengeluarkan sisa-sisa susu yang masih terdapat pada puting guna mencegah terjadinya mastitis.
2.3.4.      Reproduksi
Bearden dan Fuquay (l997) berpendapat bahwa sapi dari bangsa perah seharusnya mencapai berat kawin pertama pada umur 15 bulan sehingga saat beranak kira-kira umur 24 bulan, sebaiknya sapi perah dikawinkan pertama kali ketika berat badannya 272 kilogram. Ada data yang menunjukkan bahwa sapi betina yang dikawinkan pertama kali pada umur 4-5 tahun secara nyata dapat meningkatkan masalah reproduksi.
Keberhasilan bunting dipengaruhi oleh kualitas semen yang secara langsung dipengaruhi oleh proses penanganan dan penyimpanannya (Bearden dan Fuquay , 1997).
Birahi ternyata bertepatan dengan perkembangan maksimum folikel-folikel ovarium. Manifestasi psikologis birahi ditimbulkan oleh hormon seks betina, yaitu estrogen yang dihasilkan oleh folikel-folikel ovarium. Pada sapi betina seringkali terjadi birahi tenang semua fenomena histologis dan fisiologis yang normal dapat teramati, termasuk ovulasi tetapi respon untuk perkawinan tidak tampak, untuk beberapa individu, kebutuhan estrogen mungkin lebih besar dibanding yang lainnya dan birahi tenang mungkin disebabkan oleh kegagalan dalam mensekresi estrogen dalam jumlah yang cukup besar untuk menimbulkan respon perkawinan. Tanda-tanda sapi birahi antara lain vulva nampak lebih merah dari biasanya, bibir vulva nampak agak bengkak dan hangat, sapi nampak gelisah, ekornya seringkali diangkat bila sapi ada dipadang rumput sapi yang sedang birahi tidak suka merumput, kunci untuk menentukan yang mana diantara sapi-sapi yang saling menaiki tersebut birahi adalah sapi betina yang tetap tinggal diam saja apabila dinaiki dan apabila didalam kandang nafsu makannya jelas berkurang, pada sapi dewasa laktasi tidak jarang produksi susunya turun (Soetarno, 2003).
Palpasi rectal pada sapi dilakukan dengan meraba uterus melalui rektum rectal untuk mengetahui perkembangan fetus bila terjadi kebutingan. Metode ini dilakukan pada masa awal kebuntingan hasilnya, cukup akurat dan dapat diketahui segera (Hafez, 1993).

2.3.5.      Perkandangan
Syarif dan Somoprastowo (1990) menyatakan bahwa lokasi kandang tidak boleh berdekatan dengan perumahan rakyat sebab akan menimbulkan masalah sosial yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat, masalah yang menyangkut kesehatan masyarakat sekeliling.
Prihatman (2000) menyatakan lantai jangan terlalu licin dan terlalu kasar serta dibuat miring ( 3 cm). Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari semen, dialasi dengan karpet sebagai alas kandang yang hangat dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Sugeng (2001) menyatakan bahwa lantai kandang yang terbuat dari semen berfungsi untuk memudahkan peternak dalam membersihkan dan membuang kotoran.
2.4.            Kesehatan
Wiharto (2000), menjelaskan bahwa upaya untuk pencegahan dan pengobatan panyakit pada sapi perah yang paling utama adalah sanitasi dan disinfektan karena sanitasi merupakan ujung tombak yang tidak bisa untuk diabaikan dalam suatu usaha peternakan. Kusnadi (2006), berpendapat bahwa untuk program sanitasi pada pemeliharaan intensif sapi-sapi harus dikandangkan sehingga memudahkan dalam pengawasannya.
2.5.            Penanganan Limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang dikenal sebagai sampah, yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungaan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Darmono, (1992) menyatakan bahwa Limbah dari ternak dapat mendatangkan keuntungan yang berpotensi apabila dikelola dengan baik.


III.           MATERI DAN METODE

Waktu dan tempat
Kegiatan pelaksaan PKL dilaksanakan pada tanggal 16 September sampai dengan 29 September 2013. Kegiatan tersebut berlangsung di KUD TANI WILIS Desa Sendang, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, JAWA TIMUR.

 
     
IV. HASIL KEGIATAN

V. KESIMPULAN DAN SARAN

   Kesimpulan


VI. DAFTAR PUSTAKA

Abidin. 2002. Pemerahan, Satu Faktor Penentu Jumlah Air Susu. Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 23-24.
Bearden, H.J. and J.W. Fuquay, l997. Applied Animal Reproduction. Fourth Edition. Prentice Hall Inc.
Blakely, J dan D. H. Bade 1991. The Science of Animal Husbandry. Diterjemahkan Oleh Bambang Sri Gandono. Ilmu Peternakan. Edisi Keempat. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Hal. 276, 262
Darmono. 1992. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Jakarta.
Hafez, E. S. E. 1993. Anatomy of Male Reproduction. Dalam E. S. E. Hafez (E.d)
Hardjosubroto. 1994. Sapi Perah. Cet 1. Jakarta, Penebar Swadaya. 73 hal.
Kusnadi. 2006. Beternak Sapi Perah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan, Jakarta.
Prihatman, Kemal. 2000. Budi Daya Ternak Sapi Perah. www.google.co.id.
Diakses pada tanggal 1 Agustus 2012. 20.00 WIB.
Riyanto, B. 1982. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Pertama. Yayasan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta. Hal. 291.
Rasyaf. 2004. Pedoman beternak sapi perah. Purwokerto, Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak. 2 hal. (brosur).
Siregar, S. B. 1990.  Produkasi Sapi Perah.  Departemen Produksi Ternak Perah Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Siregar, S. 1992. Sapi Perah : Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Cetakan Kedua. Penebar Swadaya, Bogor. Hal. 4, 25, 49, 115, 141.
Siregar, S. 1995. Sapi Perah Jenis Tehnik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. PT. Penebar Swadaya, Jakarta. Hal 107-121.
Siregar, S. B. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soedono, A. 1990. Pedoman Beternak Sapi Perah. Edisi Kedua. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta. Hal 7, 35, 48.
Soetarno, T. 2000. Ilmu Produksi Ternak Perah. Laboratorium Ternak Perah Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sudono, dkk. 2004. Manajemen Ternak Ruminanasia Tropis. Majalah Trobos 2007. Edisi ke IV. Maret.2007.
Sugeng. 2001. Sapi Perah Daerah Tropis. Erlangga.Jakarta
Susilorini, T.E., M.E. Sawitri, Muharlien.2009. Budidaya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suwarsono. 1992. Kondisi Peternakan Sapi Perah Dan Kualitas Susu Di Pulau Jawa. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 39-40.
Syarief, M. dan Sumoprastowo, R.M., 1990.Ternak Perah. CV Yasaguna. Jakarta.
Wahiduddin, M. 2008. Manajemen Sapi Perah Pada Peternakan Rakyat.
Wiharto 2000. Teknik Pemeliharaan Sapi Perah. Gramedia. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar