LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
BIDANG AYAM LAYER
PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
GELOMBANG II KELOMPOK 4B

DISUSUN OLEH :
ERIN PEBRIYANSYAH, S.K.H 10820075
FAKULTAS
KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS
WIJAYA KUSUMA SURABAYA
SURABAYA
2013
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Seiring
dengan perkembangan zaman yang sudah semakin maju semestinya masyarakat
Indonesia menyadari akan pentingnya keamanan pangan yang dikonsumsi
sehari-hari, baik pangan yang berasal dari hewan maupun tumbuhan. Keamanan pangan
berkaitan dengan adanya penyakit infeksi akibat makanan yang tercemar dan
adanya pemalsuan terhadap bahan pangan tersebut.
Ayam
ras petelur (layer) adalah ayam ras hi-breed yang diternakkan khusus sebagai
penghasil telur. Telur ayam adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi
masyarakat Indonesia. Telur ayam terdiri dari beberapa bagian yaitu kulit (8 –
11 %), putih telur (57 -65 %) dan kuning telur (27 – 32 %). Satu butir telur
ayam mengandung energi sebesar 162 kilokalori, protein 12,8 gram, karbohidrat
0,7 gram, lemak 11,5 gram, kalsium 54 gram, fosfor 180 gram, dan zat esi 3
miligram. Selain itu di dalam telur ayam juga terkandung vitamin A sebanyak 900
IU dan vitamin B1 0,1 miligram.
Pemahaman
masyarakat akan kandungan gizi pada satu butir telur ayam yang baik bagi tubuh
dan harga telur ayam yang sangat terjangkau pada semua kalangan masyarakat
menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat akan telur ayam semakin meningkat. Hal
ini juga tidak terlepas dari managemen farm yang baik yang akan menghasilkan ayam
– ayam yang sehat dan memproduksi telur yang berkualitas.
1.2
Tujuan
Praktek
Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa PPDH Fakultas Kedokteran Universitas Wijya
Kusuma Surabaya memiliki tujuan :
1.
Meningkatkan kemampuan dan pemahaman
mahasiswa mengenai Kesehatan Unggas khususnya ayam petelur.
2.
Meningkatkan kerjasama antar perguruan
tinggi dengan farm terkait (Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dengan Wirifa
Sakti Farm Trawas, Mojokerto).
3.
Mengetahui dan melaksanakan managemen
serta penanganan penyakit unggas di Wirifa Sakti Farm.
1.3
Manfaat
1.
Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini
diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
managemen peternakan ayam petelur (Layer).
2.
Memperoleh informasi
tentang kesehatan unggas khususnya ayam petelur (layer).
II.
TINJUAN
PUSTAKA
2.1
Managemen Ayam Petelur
a. Syarat
DOC yang baik untuk Ayam petelur:
·
Bobot minimal 33-35gr
·
Kaki normal,berdiri tegak
·
Paruh normal
·
Aktif
·
Dubur kering
b. Ayam
petelur dibagi menjadi 4 periode:
·
Periode
starter (1hari-7minggu)
·
Periode Grower (8minggu-12minggu) PULLET
·
Periode Developer (13minggu-18minggu)
·
Periode Layer (19 minggu-periode)
Managemen
Pulllet disebut model “two size”.
Artinya selama proses perkembangan pullet sejak umur 1 sampai dengan 14 minggu
dibedakan menjadi 2 tempat, yaitu: Umur 1-4 minggu dan umur 5-14 minggu. Hal
ini ternyata lebih efektif dan lebih produktif dibandingkan sistem tradisional
yang umur 1-14 minggu berada di satu tempat.
Nilai
penting dari sistem two size itu
adalah pertama membedakan
proses pertumbuhan yang paling rawan yaitu umur 1-4 minggu pertama dan umur
5-14 minggu yang relatif aman. Kedua
meningkatkan produktifitas pullet pertahun. Dengan kapasitas kandang yang sama
bila dibandingkan dengan sistem tradisional, maka model two size ini bisa
meningkatkan produksi pullet beberapa kali lipat.
Pada
umur 1-4 minggu terdapat banyak perlakuan seperti vaksinasi dan debeaking yang cenderung rawan
menyebabkan stress pada ayam, dan hal ini akan aman jika dilakukan dan diawasi
oleh banyak tenaga yang ahli dibidangnya.
Pada
umur 5-14 minggu, ayam setelah
lolos grading 100% kemudian mendapatkan kandang baru, dan tanpa
gangguan amoniak yang secara fisiologis akan meningkatkan nafsu makan dan
pertumbuhan pullet. Pertumbuhan yang cepat akan mengakibatkan tercapainya
standard berat badan pada umur lebih muda. Ketika frame tubuh sudah terbentuk pada umur yang lebih muda maka energi
dari pakan yang masuk praktis akan optimal untuk perkembangan saluran
reproduksi. Standard berat badan, umur dan kematangan organ reproduksi yang
optimal akan mendukung tercapainya produksi telur yang bisa mencapai puncak dan
dapat dipertahankan dalam waktu yang lebih lama.
2.2
Konstruksi Kandang
Model
kandang di farm trawas seluruhnya adalah model terbuka. Sedangkan bentuk
lantainya ada 2 bentuk:
a)
Bentuk lantai litter untuk DOC
Bangunan
dengan ukuran panjang 24 m, lebar
5,4 m lantai dicor, dinding setinggi
dengan kawat-ram sampai atas. Di luar kawat dipasang tirai yang siap
dibuka-tutup. Atap terbuat dari seng dengan monitor dengan jarak ± 20 cm.
Tinggi bangunan kurang lebih 8 meter.
Satu bangunan (flock) dibagi menjadi 10 pen dan dipisahkan tiap 5 pen. Lantai kandang ditutup koran
setebal 30 lembar. Posisi feeder tube untuk kandang umur 1-4
minggu letaknya ditaruh, sedangkan untuk kandang umur 4-13 minggu digantung.
b)
Bentuk kandang panggung untuk grower
Kandang
berbentuk panggung dengan ukuran panjang 22 m dan lebar 8 m, dan dipisahkan
menjadi 18 pen dipisahkan tiap 6 pen. Dinding terbuat dari kawat/ram, tirai
serta atap dari seng dengan monitor mirip dengan kandang litter.
Tinggi lantai ±120 cm dari permukaan tanah. Lantai
terbuat dari bambu. Posisi feeder tube untuk kandang
umur 1-4 minggu letaknya ditaruh, sedangkan untuk kandang umur 8-14 minggu digantung.
2.3
Persiapan Kandang
- Sekam dan kotoran dibersihkan.
- Cuci kandang dan peralatan dengan semprotan air berkekuatan tinggi.
- Semprot dengan desinfektan (dosis 250ml/100 lt air).
- Pasang tirai/ jahit tirai.
- Isi sekam/koran dengan ketebalan ± 30 lembar.
- Susun brooder beserta kelengkapannya.
- Semprot dengan desinfektan (dosis 250ml/100 lt air).
- Semprot dengan formalin (dosis 5 lt/ 100 lt air).
2.4
Managemen Brooding
Syarat
kelengkapan setiap pen: ada 3
pemanas/lampu masing-masing 150 watt. Disediakan sebuah lampu 25 watt untuk
program lighting, 6 tempat minum
gantung @ 1liter air, 7 tempat pakan
untuk masing-masing pen, sebuah termometer ruangan, litter dialasi kertas
Koran. Setiap pen diisi DOC sebanyak 200-210 ekor DOC
SUHU BROODING SEJAK UMUR 1-28 HARI
|
UMUR
(HARI)
|
SUHU
(0 C)
|
|
0-3
|
32-35
|
|
3-7
|
29-34
|
|
8-14
|
27-31
|
|
15-21
|
24-27
|
|
22-28
|
21-24
|
1-3
jam sebelum DOC datang lampu pemanas dinyalakan agar pen,air minum dan pakan
dalam kondisi hangat. Pada saat DOC datang posisi tempat minum hanya diletakkan
dan diisi air minum yang telah ditambahkan air gula (50gr/liter air) .Hari
berikutnya minum diisi Vitachicks (60 gr/78 lt air) selama 2 minggu.Pada minggu
ke-3 sampai ke-4 tempat minum mulai dihantung setinggi punggug dari DOC dan
diisi Vitachicks ( 60gr/144 lt air).
Hari-hari
pertama DOC dalam brooder harus selalu dikontrol kondisinya, penyebarannya,
suhunya, minumnya, pakannya, menumpuk atau tidak dan lain-lain. Jika ada yang kelihatan lemas segera diambil dan dipaksa
minum. Setiap 1
hari alas koran diambil.
Pelebaran brooder/pengurangan kepadatan
pen dapat dilakukan mulai umur 2 minggu. Dengan tujuan agar tidak terlalu padat
dan dapat tercapainya keseragaman yang tinggi.
PROGRAM VAKSINASI WIRIFA SAKTI FARM
DOC IN
|
Umur
(Hari)
|
Vaksin
|
Aplikasi
|
Dosis
|
|
4
|
ND-IB
|
Tetes
mata
|
1
dosis
|
|
8
|
GUMBORO
A
|
Tetes
mulut
|
1
dosis
|
|
11
|
ND
LASOTA
|
Tetes
mulut
|
1
dosis
|
|
14
|
GUMBORO
A
|
Tetes
mulut
|
1
dosis
|
|
18
|
ND
LASOTA
|
Tetes
mulut
|
1
dosis
|
|
22
|
GUMBORO
A
|
Tetes
mulut
|
1
dosis
|
|
28
|
IBH
120
|
Air
minum
|
1
dosis
|
|
35
|
ND
LASOTA
|
Air
minum
|
1
dosis
|
|
45
|
CORYZA
T DAN POX
|
Suntik
tembus daging+ tusuksayap
|
1
dosis (0.5)
|
|
55
|
A1
H5 N1
|
Suntik
tembus daging
|
1
dosis (0.5)
|
|
65
|
ND
LASOTA
|
Air
minum
|
1
dosis
|
|
70
|
ILT
|
Tetes
mata
|
1
dosis
|
|
100
|
ND-IB
|
Air
minum
|
1
dosis
|
|
105
|
CORYZA
T
|
Suntik
tembus daging
|
1
dosis (0.5)
|
|
115
|
A1
H5 N1
|
Suntik
tembus daging
|
1
dosis (0.5)
|
|
125
|
ND-EDS
|
Suntik
tembus daging
|
1
dosis (0.5)
|
|
133
|
IBH
120
|
Air
minum
|
1
dosis
|
Program vaksinasi Infectious
Bursal Disease (gumboro) secara peroral dicampurkan dengan air minum. Untuk
memastikan ayam bisa menghabiskan vaksin dalam air minum, sebelumnya ayam dipuasakan
dari minuman selam ± 3 jam.
Sebelumnya dihitung kebutuhan air untuk vaksin, yaitu
kira-kira 25% dari kebutuhan air minum biasanya. Caranya: Susu skim dicampur
air dengan perbandingan 500 g dalam 150 lt air untuk memperpanjang masa hidup vaksin. Vaksin dicampur dengan
pelarutnya, kemudian dicampurkan dengan air yang telah ditambah skim. Air itu
diusahakan selalu dalam keadaan dingin dengan cara di beri es batu. Semua
proses pencampuran vaksin tidak boleh terkena
cahaya matahari.
2.5
Debeaking
Potong paruh (debeaking)
dilakukan pada hari ke 9 untuk mencegah kanibalisme dan meningkatkan efisiensi
pakan. Ayam yang sudah dipotong paruh, tidak bisa pilih-pilih pakan, sehingga
pakan bisa habis semua.
Satu hal yang penting yaitu potongan paruh harus sempurna
karena jika tidak rata justru ayam jadi kesulitan makan. Potongan harus tegak
lurus dengan sumbu paruh kira-kira 1/3 panjangnya dari lubang hidung (2 mm dari
lubang hidung).
Cara memotong
paruh yang benar :
1.
Genggam
ayam, letakkan ibu jari dibelakang kepala ayam.
2.
Gunakan
ibu jari untuk memegang kepala ayam.
3. Pilih
lubang yang sesuai dengan besarnya paruh.
Sesudah
potong paruh isi tempat pakan dengan lebih tebal selama 3 hari dan pastikan
ayam dapat makan dengan enak dengan kedalaman pakan yang memadai.
2.6
Pemberian Obat Cacing
Selama
pertumbuhan ayam pullet sejak umur 1-14 minggu diberikan obat cacing sebanyak 2
kali :
·
Capri-Albend, diberikan saat umur 49
hari (7 minggu) dengan dosis untuk 2000ekor = 93 gr/170 lt air minum.
·
Capri-albend, diberikan saat umur 84
hari (12 minggu) dengan dosis untuk 2000 ekor = 180 gr/260 lt air minum.
Setelahnya pemberian obat cacing
diberikan setiap 3 bulan sekali dari minggu terakhir pemberian
2.7
Program Pencahayaan
Mulai periode
DOC sistem pencahayaan dilakukan dengan cara bertahap bertujuan untuk membantu
mengontrol kematangan seksual. Selain itu, berhubungan pula dengan kondisi
lingkungan dan target program pakan. Umumnya ketika suasana terang, maka ayam
akan makan. Artinya untuk program pakan, ketika waktu pencahayaan ditambah maka
kesempatan makan juga ditambah.
Intensitas cahaya pada usia growing akan bisa menyebabkan
early sexual maturity. Pada
pemeliharaan pullet diusahakan agar kondisi ruangan tidak terlalu terang, agar
ketika di pindah di kandang baterei yang terang, akan merangsang hipothalamus
untuk mengeluarkan hormon yang memacu terjadinya kematangan sexual.
|
UMUR
(minggu)
|
LAMA
PENCAHAYAAN (jam)
|
|
1
|
22-24
|
|
2
|
18
|
|
3
|
16
|
|
4-19
|
Penyinaran
Alami
|
|
20
|
13
|
|
21
|
13,5
|
|
22
|
14
|
|
23
|
14,5
|
|
24
|
15
|
|
25
|
15,5
|
|
26-afkir
|
16
|
2.8
Program Pemberian Pakan
Jumlah
pakan yang diberikan menurut standard feed
intake dihitung dalam satuan gram/ ekor/ hari. Jumlahnya meningkat setiap
hari seiring dengan kebutuhan energi untuk metabolisme tubuh dan kapasitas
tembolok.
Kemampuan
menghabiskan pakan berhubungan erat dengan tercapainya target berat badan. Jika
pakan habis dan tidak ada masalah maka berat badan seharusnya tercapai. Jatah
pakan yang tersisa tetap dihitung dan sebelum umur 14 minggu harus termakan
semua.
Setiap
perubahan pakan harus dikenalkan dahulu pakan penggantinya dalam waktu beberapa
hari dalam jumlah dan waktu yang bertahap. Usahakan pakan yang lama benar-benar habis baru kemudian
diberikan pakan baru.
STANDARD PEMBERIAN PAKAN DAN BERAT
BADAN PULLET
|
UMUR
(minggu)
|
KODE
PAKAN
|
JUMLAH
PAKAN
(gram/ekor/hr)
|
STANDARD
BERAT BADAN (gram)
|
|
1
|
Chick
Boost/BR1
|
11
|
65
|
|
2
|
Chick
Boost/BR1
|
18
|
120
|
|
3
|
Chick
Boost/BR1
|
24
|
200
|
|
4
|
Chick
Boost/BR1
|
29
|
290-300
|
|
5
|
Chick
Boost/BR1/R1
|
34
|
385-410
|
|
6
|
R1
|
39
|
480-500
|
|
7
|
R1
|
44
|
570-590
|
|
8
|
R1/R2
|
49
|
660-680
|
|
9
|
R2
|
54
|
750-780
|
|
10
|
R2
|
57
|
840-870
|
|
11
|
R2
|
61
|
930-965
|
|
12
|
R2
|
64
|
1020-1060
|
|
13
|
R2
|
68
|
1105-1150
|
|
14
|
R2
|
71
|
1190-1240
|
|
15
|
R2
|
73
|
1275-1330
|
|
16
|
R2/R5
|
76
|
1360-1420
|
|
17
|
R5
|
80
|
1445-1520
|
|
18
|
R5
|
84
|
1530-1600
|
2.9
Penimbangan Ayam
Penimbangan
ayam dilakukan setiap 7 hari, dengan cara mengambil sampel (min 10%) dari tiap
pen untuk dicocokan dengan target berat badan.
Setiap
penimbangan dicatat kemudian dihitung tingkat keseragamannya, dan hal ini yang
akan menentukan kebijakan terhadap perlakuan pada ayam di waktu selanjutnya.
Cara
menghitung keseragaman (uniformity):
·
Tentukan jumlah ayam (sampel).
·
Timbang
ayam (sampel) dan catat beratnya pada tabel. Jika umur ayam
di atas 28 hari, penimbangan ayam dilakukan satu per satu.
·
Hitung berat ayam total. Jumlahkan dari
setiap penimbangan berat ayam.
·
Hitung berat rata-rata per-ekor. Berat
ayam total dibagi jumlah ayam sampel.
·
Hitung different, yaitu selisih target berat badan yang harus dicapai
dengan berat rata-rata per-ekor.
·
Tentukan berat standard bawah (berat
rata-rata – 10%) dan berat standard atas (berat rata-rata + 10%).
·
Hitung uniformity :
2.10
Pemindahan Ayam
Ayam
mulai digrading sejak umur 2 minggu,
yang nampak kecil dipisahkan tersendiri dalam small pen. Tiap 6 pen dibuatkan 1 small pen. Pakan yang diberikan
standard atau kadang ditambah jatahnya tergantung kebutuhan.
Umur
4 minggu, dalam sistem two size adalah saat dilakukan pindah kandang. Pada saat
menangkap ayam itu sekaligus melakukan grading
100%. Ayam dikelompokan menurut berat badan tertentu; besar, sedang dan kecil.
Besar
tubuh yang seragam di kandang yang baru akan menyebabkan kesempatan makan yang
sama pada tiap individu ayam dan pertumbuhan yang terjadi juga seragam sampai
pada umur 14 minggu. Pada saat pindah kandang biasanya ayam diberi
Capritrovit/Elektrovit dan untuk antisipasi terserang penyakit kadang perlu
juga diberikan Caprimox/colamox (antibiotik).
2.11
Standard Operation Procedure WIRIFA SAKTI FARM
a)
DOC HOUSE (KANDANG DOC)
·
Begitu kandang kosong dilakukan
pembersihan dengan dicuci air tekanan tinggi dan disikat sebelumnya kotoran
terlebih dahulu diberishkan.
·
Dilakukan reparasi kandang
·
Penyemprotan dengan desinfektan
(formalin atau lainnya)
·
Bersih kandang minimal selama 2 minggu
b)
Persiapan DOC IN
·
Alas kandang dari kertas koran
dipersiapkan dan ditumpuk sebanyak 30 lembar
·
Tempat pakan dan tempat minum yang sudah
diberishkan dan disterilkan dipersiapkan.
·
Tempat minum diisi dengan air
gula,Tempat pakan diisi dengan pakan
·
1-3 jam sebelum datang lampu pemanas
dinyalakan agar pen,dan air minum dalam kondisi hangat
·
DOC datang dilakukan penimbangan dengan
berat standard 33-35gr per ekor
·
Brooder/pemanas dinyalakan selama 14-21
hari
SUHU BROODING SEJAK
UMUR 1-28 HARI
|
UMUR
(HARI)
|
SUHU (0
C)
|
|
0-3
|
32-35
|
|
3-7
|
29-34
|
|
8-14
|
27-31
|
|
15-21
|
24-27
|
·
Gradding/penimbangan dilakukan setiap 4
minggu,mulai dari umur 4,8,dan saat naik kandang batrai untuk mengetahui
keseragaman berat badan dan penyesuaian pakan
·
Setiap pen diisi ±200-210 ekor. Setiap 2
minggu dilakukan pengurangan jumlah ayam agar pen tidak terlalu padat.
·
Pemberian pakan dan minum diberikan 2
kali dalam sehari. Prinsip dari air minum adalah ad-libitum
·
Pada kandang DOC ada 10 pen masing-masing berukuran 2mx3m
c)
Grower
·
Pada kandang grower alas sudah
menggunakan kawat terdiri dari 18 pen
·
Ayam dipindah kekandang grower pada umur
4 minggu sampai siap naik kekandang batrai
·
Tiap pen diisi 100-150 ekor ayam agar
tidak terlalu padat
·
Pencahayaan alami
d)
Kandang Batrai
·
Ayam pullet usia 13-15 minggu dipindah
kekadang batrai.
·
Pada saat pemindahan kekandang batrai
dilakukan gradding atau penimbangan
·
Pada kandang batrai
-
Pagi pukul 07.00-10.00: Pegawai kandang
meratakan pakan atau menimbang sisa pakan hari sebelumnya, Membersihan tempat
pakan dan minum, memberikan pakan dan minum, kemudian membersihkan kandang dan
lantai kandang menggunakan sikat dan sapu.
-
Pukul 10.00-11.00: Colecting telur dan
recording telur
-
Pukul 11.00-13.00: Meratakan
pakan,penambahan air minum dan istirahat
-
Pukul 13.00-15.00: Menambahakan pakan
dan air minum, colecting & recording telur sore hari
·
Pada kandang batrai lama pencahayaan
selama 14-16jam (12 jam adalah pencahayaan alami dan sisanya adalah dengan
lampu.
·
Jika Kondisi mendung maka lampu harus
dinyalakan.
·
Dua kali dalam seminggu dilakukan
penyikatan lantai kandang menggunakan kaporit dan deterjen
·
Sebulan sekali tempat minum dicuci
menggunakan terpol
III.
MATERI METODE
3.1
Lokasi
dan Waktu
Praktek
Kerja Lapangan mahasiswa PPDH Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya di bidang Perunggasan khususnya Layer di laksanakan di WIRIFA SAKTI
FARM yang terletak di Trawas, Mojokerto pada tanggal 14 Oktober – 27 Oktober
2013.
IV. HASIL KEGIATAN
1) Vaksinasi
Avian Influenza
Metode yang
dipakai saat Vaksinasi ini adalah metode injeksi intramuskular. Vaksin ini
hanya bersifat penggulangan atau booster terhadap vaksinasi yang telah
dilakukan sebelumnya. Metode ini memerlukan alat bantu berupa
stroker dan selang khusus. Stroker ini merupakan alat suntik otomatis yang
dapat kita atur berapa jumlah cairan yang akan kita suntikan. Memang alat ini
cukup mahal harganya, namun dengan adanya alat ini vaksinasi akan lebih mudah
untuk dilakukan. Sedangkan selang khusus merupakan selang penghubung antara
botol penyimpan vaksin dan stoker. Biasanya selang ini didapatkan dari produsen
vaksin.
Persiapan yang
harus dilakukan adalah melarutkan vaksin dengan aqua destilata. Banyaknya aqua
destilata tergantung dari dosis vaksin dan keinginan dari pelaku vaksinasi.
Biasanya kami menggunakan 0.3 ml perdosis vaksin sehingga kami melarutkan
vaksin untuk 1000 dosis dengan 300 ml aqua destilata. Pada table vaksinasi,
menggunakan 11/2 – 2 dosis untuk setiap ayam. Maksudnya adalah 1 ekor ayam kami
suntik dengan dosis 11/2 kalinya atau double dosis namun tetap
menggunakan jumlah pelarut yang sama sehingga tetap menggunakan 300 ml aqua
untuk 1500 atau 2000 dosis.
Cara
melarutkannya sangat mudah yaitu dengan memasukan vaksin ke aqua destilata yang
telah diukur jumlahnya, kemudian kocok dan bilas ampul vaksin beberapa kali
dengan aqua tersebut. Setelah semua siap, pasang selang pada botol aqua
tersebut dengan menancapkan ujung selang yang mempunyai jarum khusus dan ujung
pada belahan yang lain disambungkan pada stroker. Yang perlu diperhatikan pada
pemasangan stroker adalah penyesuaian dosis pada alat tersebut, jika hanya menginginkan
hanya 0,3 ml saja yang kita suntikan, maka alat tersebut juga harus kita set
sehingga vaksin yang akan dikeluarkanpun 0,3 ml. Penyesuaian alat ini sangat
mudah hanya dengan menyetel sekrup ulir pada ujung alat.
Setelah
semuanya siap, sekat kandang menjadi 2 bagian dengan menggunakan terpal.
Seluruh ayam dikumpulkan pada salah satu sisi kandang. Pegang 5 ekor ayam
sekaligus pada bagian kakinya dengan menggunakan satu tanggan dan usahakan agar
dada ayam menghadap ke atas untuk memudahkan penyuntikkan. Penyuntikkan
dilakukan pada paha ayam dengan hati-hati jangan sampai terlalu dekat dengan
tulang dada dan jangan sampai tembus hingga mengenai hati. Biasanya kami
menyuntikkan stroker dengan jarak ± 0,5-1 cm dari tulang
dada dengan arah suntikkan lebih mendatar.
2) Bedah
Bangkai
Metode bedah bangkai :
- Jika unggas masih dalam keadaan hidup, diperiksa terlebih dahulu tubuh bagian luar dan diamati gejala klinis tertentu.
- Diperiksa secara teliti adanya parasit eksternal pada bulu dan kulit. Diamati warna pial dan cuping telinga. Diperhatikan pula terhadap kemungkinan adanya diare, leleran dari paru, nares dan mata serta kemungkinan adanya kebengkakan dan perubahan warna daerah facial
- Unggas yang masih dalam kondisi hidup dapat dibunuh (eutanasi) dengan cara mematahkan leher pada persendian atlanto-occipitalis, emboli udara kedalam jantung.
- Bangkai hendaknya dibasahi dengan air terlebih dahulu untuk menghindari bulu tidak berterbangan, karena hal tersebut dapat menyebabkan pencemaran.
- Bangkai dibaringkan pada bagian dorsal dan dibuat suatu irisan pada kulit di bagian medial paha dan abdomen pada kedua sisi tubuh.
- Paha ditarik ke bagian lateral dan diteruskan irisan dengan pisau sampai persendian coxo femoralis.
- Irislah kulit pada bagian medial dari kaki / paha dan periksa otot dan persendian pada daerah tersebut.
- Buat irisan melintang pada kulit daerah abdomen, lalu kulit ditarik ke bagian anterior dan irisan tersebut diteruskan ke daerah thorax sampai mandibula. Irisan pada kulit juga diteruskan ke bagian posterior di daerah abdomen.
- Kuliti pada bagian ventral badan leher
- Potong dan singkirkan bagian dada demikian sehingga Nampak organ dalam
- Amati letak organ, adanya cairan pada rongga perut/ peritoneum dan rongg dada
- Saluran pencernaan dapat dikeluarkan dengan memotong oesophagus pada bagian proksimal proventrikulus. Tarik keluar seluruh saluran pencernaan ke arah posterior dengan memotong mesenterium sampai pada daerah kloaka. Periksa bursa fabrisius terhadap abnormalitas tertentu.
- Hepar, lien dikelurkan dan dilakukan pemeriksaan
- Keluarkan paruh bawah, lidah, esofagus, trakhea, jantung dan paru-paru bersama-sama
LANGKAH KERJA
1) Mempersiapkan
alat dan bahan praktek (hewan/ternak)
2) Letakkan
ayam dengan posisi punggung di bawah.
3)
Iris atau gunting kulit pada bagian antara kaki dan
perut. Lakukan pada sisi sebelah kiri dan kanan.
4)
Patahkan sendi pangkal paha dengan menggenggam dan
menarik ke luar hingga posisi kaki rata dengan meja/lantai. Lakukan pada sisi
sebelah kiri dan kanan.
5)
Potong kulit antara dua irisan tadi dan tarik ke atas
atau iris hingga semua sisi bagian depan tubuh ayam tampak, termasuk
daerah leher.
6)
Periksa kondisi kondisi daging bawah kulit yang
tampak.
7)
Potong dinding perut secara melintang, dilanjutkan
dengan memotong di kedua sisi dada termasuk tulang iga,coracoid dan klavikula
pada kedua sisinya. Angkat potongan ini.
8)
Amati organ dalam yang tampak di permukaan.
9)
Untuk mengamati saluran pencernaan dan organ
lainnya potong bagian depan provent dan tarik keluar. Organ
lain tersebut adalah bursa fabricius, trachea bagian dalam, paru-paru dan
ginjal.
10) Amati
perubahan pathologi yang ada.
11) Untuk
pemeriksaan daerah kepala, potong paruh secara melintang dan membujur di antara
dua paruh.
Adapun kasus
yang ditemukan saat melakukan bedah bangkai, antara lain :
1. Colibacillosis
Penyebab
penyakit ini adalah Escherichia coli. Problem yang ditimbulkan dapat infeksi
akut berat dengan kematian yang tiba-tiba dan angka kematian yang tinggi hingga
infeksi ringan dengan angka kesakitan dan kematian yang rendah.infeksi dapat
terjadi pada saluran pernapasan, septicemia atau enteritis karena infeksi pada
gastrointestinal. Penyakit ini dapat berdiri sendiri atau diikuti oleh infeksi
sekunder. Infeksi sekunder yang menyertai penyakit ini adalah Mycoplasma
gallisepticum. Semua umur dapat terkena penyakit ini, namun yang paling banyak
adalah ayam usia muda.
Gejala
yang ditimbulkan pada penyakit ini disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh
bakteri akibat pertumbuhan dan multiplikasi. Invasi primer terjadi pada system
pernapasan dan system gastrointestinal. Omphalitis atau infeksi pada anak ayam
terjadi karena penutupan tali pusat yang kurang baik atau karena invasi bakteri
melalui cangkang telur pada saat inkubasi. Berikut ini gejala yang timbul
pada penyakit ini adalah:
-
nafsu makan menurun
-
ayam lesu dan tidak bergairah
-
bulu kasar
-
sesak napas
-
kotoran banyak menempel di anus
-
diare
-
batuk
Pada septicemia akut dapat
menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Pada pembedahan akan didapatkan:
-
dehydrasi
-
bengkak dan kongesti pada hati, limpa dan
ginjal
-
perdarahan pinpoint pada organ viscera
-
eksudat fibrinous pada kantung udara,
kantung jantung dan permukaan jantung, hati dan paru (sangat karakteristik)
-
usus menipis dan inflamasi serta
mengandung mucous dan area perdarahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan
menjaga sanitasi kandang seperti menjaga ventilasi udara, litter yang terjaga
kebersihannya, secara teratur melakukan desinfeksi terhadap peralatan dan
fasilitas lainnya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kualitas
pakan dan air minum, kepadatan kandang harus diperhatikan, penanganan mesin
penetas telur dan menjauhkan ayam dari stress yang dapat menurunkan daya tahan
tubuh. Pengobatan Colibasillosis dapat dilakukan dengan
obat-obat sulfa, neomisin, streptomisin dan tetrasiklin. Meskipun demikian,
menurut info yang lain dikatakan pengobatan penyakit ini cenderung susah dan
tidak menentu.
2) Mycotoxyn
Mycotoxin merupakan zat beracun
yang dihasilkan dari suatu spesies jamur. Saat ini ada beberapa spesies jamur
yang memproduksi mycotoxin seperti Aspergillus sp , Penicilium sp , dan
Fusarium sp. Biasanya jamur-jamur tersebut tumbuh pada hasil-hasil pertanian
yang tidak mendapat penanganan yang baik pada pasca panen. Untuk wilayah kita
komoditi Jagung, gaplek serta dedak merupakan media yang baik untuk pertumbuhan
jamur-jamur tersebut. Dan alangkah ironisnya kesemuanya itu merupakan bahan
yang dipakai dalam pakan campuran konsentrat.
Secara umum mycotoxin yang
dihasilkan oleh species Aspergillus yaitu CPA, Aflatoxin B1, B2, G1, G2 , dan
Ochratoxin A. Species Penicillum memproduksi Ochratoxin, Patulin dan Citrin.
Sedangkan species fusarium memproduksi Fumonisins, Zearalenone, T-2 dan DAS
(Devegowda dalam Diaz, 2005).
`Sampai saat ini ada beberapa
mycotoxin yang sudah teridentifikasi di Indonesia yaitu AFB1, ZEN, DON dan CPA
(Litbang Pertanian, 2001) dan dipertegas oleh Devegowda (2005) bahwa hampir 81%
sample dari feedmill yang ada terkontaminasi oleh CPA. Keberadaan CPA ini
merupakan ancaman bagi saluran pencernaan unggas.
Setiap mycotoxin mempunyai efek
negatif pada target organ yang berbeda-beda, misalnya Aflatoxin menyebabkan
kerusakan pada hati sedangkan Ochratoxin A menyebabkan kerusakan pada ginjal
ternak. Secara umum serangan mycotoxin pada ternak unggas mengakibatkan :
1. Terjadi
immunosuppresion (dikarenakan ada kelainan tymus dan bursa fabricus
sebagai pabrik antibody)
2.
Penurunan Feed Intake
3.
Produksi telur akan terganggu serta turunnya hatchability
4.
Pertumbuhan bobot badan (PBB) yang rendah
5.
FCR tinggi
6.
Terjadi wet dropping
7.
Penurunan pigmentasi kulit
8.
Terjadi kelainan organ dalam seperti gizzard , hati dan ginjal.
9.
Peningkatan mortality
Diantara beberapa akibat diatas,
ada satu yang benar-benar harus kita cermati yaitu
terjadinyaimunosuppression. Apabila ini telah terjadi maka dapat
diprediksikan bahwa di farm tersebut akan terjadi invasi dari virus/bakteri
pathogenic. Dengan terjadinya penurunan daya tahan tubuh (immune), maka ternak
tersebut akan lebih mudah terinfeksi virus/bakteri yang gejalanya lebih jelas
daripada faktor primernya (mycotoxin).
Masing-masing ternak mempunyai
daya tahan yang berbeda-beda terhadap kontaminasi mycotoxin dalam pakan. Dengan
kata lain apabila kandungan mycotoxin didalam pakan masih dalam batas ambang
aman, maka ternak tersebut masih bisa bertahan, tidak mengalami kematian hanya
terganggu proses-proses metabolismenya dan apabila kandungan mycotoxin telah
melebihi batas ambang aman maka ternak tersebut mulai menampakkan gejala-gejala
mycotoxicosis tersebut diatas. Menurut BASF, 1998 menyebutkan bahwa ayam
broiler mampu mentoleransi aflatoxin sebesar 0.010 ppm (10 ppb) sedangkan ayam
layer mampu sampai dengan 0.02 ppm (20 ppb). Dan menurut Romindo, 2004, untuk
semua unggas muda masih bisa bertahan terhadap kontaminasi Aflatoxin sampai
dengan 0.05 ppm (50 ppb), untuk unggas dewasa sampai dengan 0.10 ppm (100 ppb).
3) CRD (Crhonic Respiratory Desease)
Penyakit
saluran pernafasan pada unggas yang disebabkan oleh Mycoplasma galisepticum. Penyakit CRD bersifat kronik,
sehingga pada awal kejadian sulit terdeteksi. Hanya kadang-kadang terlihat
kebengkakan pada sinus infra orbitalis,sehingga kelopak matanya bagian bawah
akan terdorong ke atas. Pembengkakan umumnya bersifat unilateral,namun bisa
juga bilateral.Secara klinik, hidung berair, berlendir, kebengkakan sinus
kepala dan gangguan pernafasan(Dharma dan Putra, 1997. Pada anak ayam angka
mortalitas sekitar 5-40%,sedangkan pada ayam dewasa mortalitasnya rendah tetapi
banyak ayam yang diafkir (Charlton, dkk.,2000).Pada kejadian kronik dan sudah
terjadiinfeksi yang komplek, terlihat cairan yang keluar dari hidung bersifat
mukoid. Menurut Tabbu (2000), secara PA ditemukan eksudat mukus sampai kaseus
pada saluran pernafasannya.
Beberapa alternatif untuk mengobati
adanya infeksi bakteri adalah dengan pemberian antibiotik. Antibiotika yang
sering digunakan untuk pengobatan CRD adalah golongan makrolide dan kuinolon.
Akhir – akhir ini resiko penggunaan antibiotika mulai dibatasi, terutama adanya
efek resisten dan residu pada bahan pangan. Residu yang biasa ditemukan didalam
daging dan telur ayam adalah antibiotika dari golongan sulfa dan tetracycline.
Pengobatan yang terus menerus dengan obat yang sama tidak disarankan, karena
dapat menyebabkan resistensi serta meninggalkan residu yang berbahaya bagi
konsumen produk ayam. Penggunaan antibiotika untuk pengobatan penyakit pada
ayam sudah dibatasi. Informasi tentang bahaya resistensi dan residu antibiotik
pada produk pangan khususnya daging ayam dan telur semakin penting seiring
dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan penyediaan bahan makanan yang aman,
sehat, utuh, dan halal (ASUH).
V.
KESIMPULAN
Kesimpulan
yang dapat diambil setelah mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) PPDH
di WIRIFA SAKTI FARM Trawas :
1.
Pendekatan patologi diagnostik merupakan suatu tindakan
yang umum dilakukan dalam manajemen kesehatan hewan. Dengan pemeriksaan bedah
bangkai(nekropst), maka diagnosa penyakit (tentatif) dapat ditetapkan. Lesi
yang menciri(patognomonis)pada organ/jaringan tubuh akibat penyakit tertentu
memiliki tingkat ketepatan diagnosa yang tinggi.
2. Manajemen
perkandangan di Wirifa Sakti Farm telah diatur dan dilaksanakan dengan baik.
3. Vaksinasi
dilakukan secara teratur sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.
Pemberian obat cacing rutin dilakukan selama tiga
bulan sekali.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Penyakit dan Pengobatan Pada Penyakit Ayam. https://id-id.facebook.com/notes/informasi-peternakan-ayam/penyakit-dan-pengobatan-pada-penyakit-ayam/422029891158746.
CHARLTON,B.R.,A.B. BERMUDEZ, M.
BOULIANNE,D.A.HALVORSON, J.S.JEFFREY, L.J. NEWMAN, J.E. SANDER and P.S.
WAKENELL. 2000. Avian Disease Manual.
Fifth Edition. American Association of Avian Pathologists. Pennsylvania.
USA. pp. 204-231.
DHARMA, D.M.N. dan A.A.G.PUTRA.1997. Penyidikan Penyakit Hewan. CV Bali Media
Adhikarsa Denpasar.
TABBU, C.R. 1996. Dampak
ekonomis dari penyakit unggas. Pros. Temu Ilmiah Hasil-Hasil Penelitian
Peternakan. Ciawi-Bogor, 9-Il Januari 1996. Puslitbangnak. Badan Litbang
Pertanian. him. 49-58.