Sabtu, 13 Oktober 2018

MARS KARANTINA

Badan karantina pertanian indonesia
Institusi strategis pertahanan negara
Dari ancaman penyakit hewan dan tumbuhan
..Demi kesejahteraan bangsa
Karantina pertanian berani digarda depan
Melindungi sumber  hayati dan petani
.Mendukung ketahanan pangan nasional
Sukseskan agribisnis pertanian
Reff
Derap langkah serentak kedepan
Membara s’mangat profesional
Karantina tangguh dipercaya
Dimata bangsa-bangsa di dunia
Dengan berani tingkatkan pertahanan keamanan
Karantina tumbuhan dan hewan
.. Di pintu pemasukan dan pintu pengeluaran
Diseluruh wilayah Indonesia

HYMNE KARANTINA PERTANIAN

Amanah suci mendorong nurani
Berbakti menjaga bumi ibu pertiwi
Dengan Tulus hati siang dan malam hari
Untuk kedamaian negeri ini
Dengan tegar hati kita terus melangkah
Menyambut tantangan juga dari ancaman
Menjaga negeri aceh sampai papua
Di ribuan pulau yang terhampar
Reff : Peluh menetes
         Tiada kuhiraukan
         Biar angin menembus dingin
         Panas dan hujan
         Menerpa diri
         Kuterus berbakti bangun negeri
Puisi :
         Kami karantinawan karantinawati
         Siap menjaga wahai engkau ibu pertiwi
Dengan tulus hati siang dan malam hari
Untuk lestarinya negeri ini
Dengan tegar hati kita terus melangkah
Badan Karantina Pertanian

Sabtu, 08 Februari 2014

Laporan PKL Koas Ayam Layer



 LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN BIDANG AYAM  LAYER

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
GELOMBANG II KELOMPOK 4B



uwks.jpg








           




DISUSUN OLEH  :
ERIN PEBRIYANSYAH, S.K.H                10820075



FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
SURABAYA
2013



I.      PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman yang sudah semakin maju semestinya masyarakat Indonesia menyadari akan pentingnya keamanan pangan yang dikonsumsi sehari-hari, baik pangan yang berasal dari hewan maupun tumbuhan. Keamanan pangan berkaitan dengan adanya penyakit infeksi akibat makanan yang tercemar dan adanya pemalsuan terhadap bahan pangan tersebut.
Ayam ras petelur (layer) adalah ayam ras hi-breed yang diternakkan khusus sebagai penghasil telur. Telur ayam adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia. Telur ayam terdiri dari beberapa bagian yaitu kulit (8 – 11 %), putih telur (57 -65 %) dan kuning telur (27 – 32 %). Satu butir telur ayam mengandung energi sebesar 162 kilokalori, protein 12,8 gram, karbohidrat 0,7 gram, lemak 11,5 gram, kalsium 54 gram, fosfor 180 gram, dan zat esi 3 miligram. Selain itu di dalam telur ayam juga terkandung vitamin A sebanyak 900 IU dan vitamin B1 0,1 miligram.
Pemahaman masyarakat akan kandungan gizi pada satu butir telur ayam yang baik bagi tubuh dan harga telur ayam yang sangat terjangkau pada semua kalangan masyarakat menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat akan telur ayam semakin meningkat. Hal ini juga tidak terlepas dari managemen farm yang baik yang akan menghasilkan ayam – ayam yang sehat dan memproduksi telur yang berkualitas.

1.2 Tujuan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa PPDH Fakultas Kedokteran Universitas Wijya Kusuma Surabaya memiliki tujuan :
1.      Meningkatkan kemampuan dan pemahaman mahasiswa mengenai Kesehatan Unggas khususnya ayam petelur.
2.      Meningkatkan kerjasama antar perguruan tinggi dengan farm terkait (Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dengan Wirifa Sakti Farm Trawas, Mojokerto).
3.      Mengetahui dan melaksanakan managemen serta penanganan penyakit unggas di Wirifa Sakti Farm.

1.3 Manfaat
1.      Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai managemen peternakan ayam petelur (Layer).
2.      Memperoleh informasi tentang kesehatan unggas khususnya ayam petelur (layer).


II.               TINJUAN PUSTAKA

2.1 Managemen Ayam Petelur
a.       Syarat DOC yang baik untuk Ayam petelur:
·         Bobot minimal 33-35gr
·         Kaki normal,berdiri tegak
·         Paruh normal
·         Aktif
·         Dubur kering
b.      Ayam petelur dibagi menjadi 4 periode:
·         Periode starter (1hari-7minggu)
·         Periode Grower (8minggu-12minggu)                 PULLET
·         Periode Developer (13minggu-18minggu)
·         Periode Layer (19 minggu-periode)
Managemen Pulllet disebut model “two size”. Artinya selama proses perkembangan pullet sejak umur 1 sampai dengan 14 minggu dibedakan menjadi 2 tempat, yaitu: Umur 1-4 minggu dan umur 5-14 minggu. Hal ini ternyata lebih efektif dan lebih produktif dibandingkan sistem tradisional yang umur 1-14 minggu berada di satu tempat.
Nilai penting dari sistem two size itu adalah pertama membedakan proses pertumbuhan yang paling rawan yaitu umur 1-4 minggu pertama dan umur 5-14 minggu yang relatif aman. Kedua meningkatkan produktifitas pullet pertahun. Dengan kapasitas kandang yang sama bila dibandingkan dengan sistem tradisional, maka model two size ini bisa meningkatkan produksi pullet beberapa kali lipat.
Pada umur 1-4 minggu terdapat banyak perlakuan seperti vaksinasi dan debeaking yang cenderung rawan menyebabkan stress pada ayam, dan hal ini akan aman jika dilakukan dan diawasi oleh banyak tenaga yang ahli dibidangnya.
Pada umur 5-14 minggu, ayam setelah  lolos  grading  100%  kemudian mendapatkan kandang baru, dan tanpa gangguan amoniak yang secara fisiologis akan meningkatkan nafsu makan dan pertumbuhan pullet. Pertumbuhan yang cepat akan mengakibatkan tercapainya standard berat badan pada umur lebih muda. Ketika frame tubuh sudah terbentuk pada umur yang lebih muda maka energi dari pakan yang masuk praktis akan optimal untuk perkembangan saluran reproduksi. Standard berat badan, umur dan kematangan organ reproduksi yang optimal akan mendukung tercapainya produksi telur yang bisa mencapai puncak dan dapat dipertahankan dalam waktu yang lebih lama.
2.2 Konstruksi Kandang
Model kandang di farm trawas seluruhnya adalah model terbuka. Sedangkan bentuk lantainya ada 2 bentuk:
a)             Bentuk lantai litter untuk DOC
Bangunan dengan ukuran panjang 24 m, lebar 5,4 m lantai dicor, dinding  setinggi dengan kawat-ram sampai atas. Di luar kawat dipasang tirai yang siap dibuka-tutup. Atap terbuat dari seng dengan monitor dengan jarak ± 20 cm. Tinggi bangunan kurang lebih 8 meter.
Satu bangunan (flock) dibagi menjadi 10 pen dan dipisahkan tiap 5 pen. Lantai kandang ditutup koran setebal  30 lembar. Posisi feeder tube untuk kandang umur 1-4 minggu letaknya ditaruh, sedangkan untuk kandang umur 4-13 minggu digantung.
b)            Bentuk kandang panggung untuk grower
Kandang berbentuk panggung dengan ukuran panjang 22 m dan lebar 8 m, dan dipisahkan menjadi 18 pen dipisahkan tiap 6 pen. Dinding terbuat dari kawat/ram, tirai serta atap dari seng dengan monitor mirip dengan kandang litter.
Tinggi lantai ±120 cm dari permukaan tanah. Lantai terbuat dari bambu. Posisi feeder tube untuk kandang umur 1-4 minggu letaknya ditaruh, sedangkan untuk kandang umur 8-14 minggu digantung.

2.3 Persiapan Kandang
  • Sekam dan kotoran dibersihkan.
  • Cuci kandang dan peralatan dengan semprotan air berkekuatan tinggi.
  • Semprot dengan desinfektan (dosis 250ml/100 lt air).
  • Pasang tirai/ jahit tirai.
  • Isi sekam/koran dengan ketebalan ± 30 lembar.
  • Susun brooder beserta kelengkapannya.
  • Semprot dengan desinfektan (dosis 250ml/100 lt air).
  • Semprot dengan formalin (dosis 5 lt/ 100 lt air).
2.4 Managemen Brooding
Syarat kelengkapan setiap pen: ada 3 pemanas/lampu masing-masing 150 watt. Disediakan sebuah lampu 25 watt untuk program lighting, 6 tempat minum gantung @ 1liter air, 7 tempat pakan untuk masing-masing pen, sebuah termometer ruangan, litter dialasi kertas Koran. Setiap pen diisi DOC sebanyak 200-210 ekor DOC

SUHU BROODING SEJAK UMUR 1-28 HARI
UMUR (HARI)
SUHU (0 C)
0-3
32-35
3-7
29-34
8-14
27-31
15-21
24-27
22-28
21-24

1-3 jam sebelum DOC datang lampu pemanas dinyalakan agar pen,air minum dan pakan dalam kondisi hangat. Pada saat DOC datang posisi tempat minum hanya diletakkan dan diisi air minum yang telah ditambahkan air gula (50gr/liter air) .Hari berikutnya minum diisi Vitachicks (60 gr/78 lt air) selama 2 minggu.Pada minggu ke-3 sampai ke-4 tempat minum mulai dihantung setinggi punggug dari DOC dan diisi Vitachicks ( 60gr/144 lt air).
Hari-hari pertama DOC dalam brooder harus selalu dikontrol kondisinya, penyebarannya, suhunya, minumnya, pakannya, menumpuk atau tidak dan lain-lain. Jika ada yang kelihatan lemas segera diambil dan dipaksa minum. Setiap 1 hari alas koran diambil.
Pelebaran brooder/pengurangan kepadatan pen dapat dilakukan mulai umur 2 minggu. Dengan tujuan agar tidak terlalu padat dan dapat tercapainya keseragaman yang tinggi.



PROGRAM VAKSINASI WIRIFA SAKTI FARM
DOC IN
Umur
(Hari)
Vaksin
Aplikasi
Dosis
4
ND-IB
Tetes mata
1 dosis
8
GUMBORO A
Tetes mulut
1 dosis
11
ND LASOTA
Tetes mulut
1 dosis
14
GUMBORO A
Tetes mulut
1 dosis
18
ND LASOTA
Tetes mulut
1 dosis
22
GUMBORO A
Tetes mulut
1 dosis
28
IBH 120
Air minum
1 dosis
35
ND LASOTA
Air minum
1 dosis
45
CORYZA T DAN POX
Suntik tembus daging+ tusuksayap
1 dosis (0.5)
55
A1 H5 N1
Suntik tembus daging
1 dosis (0.5)
65
ND LASOTA
Air minum
1 dosis
70
ILT
Tetes mata
1 dosis
100
ND-IB
Air minum
1 dosis
105
CORYZA T
Suntik tembus daging
1 dosis (0.5)
115
A1 H5 N1
Suntik tembus daging
1 dosis (0.5)
125
ND-EDS
Suntik tembus daging
1 dosis (0.5)
133
IBH 120
Air minum
1 dosis

Program vaksinasi Infectious Bursal Disease (gumboro) secara peroral dicampurkan dengan air minum. Untuk memastikan ayam bisa menghabiskan vaksin dalam air minum, sebelumnya ayam dipuasakan dari minuman selam ± 3 jam.
Sebelumnya dihitung kebutuhan air untuk vaksin, yaitu kira-kira 25% dari kebutuhan air minum biasanya. Caranya: Susu skim dicampur air dengan perbandingan 500 g dalam 150 lt air untuk memperpanjang  masa hidup vaksin. Vaksin dicampur dengan pelarutnya, kemudian dicampurkan dengan air yang telah ditambah skim. Air itu diusahakan selalu dalam keadaan dingin dengan cara di beri es batu. Semua proses pencampuran vaksin tidak boleh terkena  cahaya matahari.
2.5 Debeaking
Potong paruh (debeaking) dilakukan pada hari ke 9 untuk mencegah kanibalisme dan meningkatkan efisiensi pakan. Ayam yang sudah dipotong paruh, tidak bisa pilih-pilih pakan, sehingga pakan bisa habis semua.
Satu hal yang penting yaitu potongan paruh harus sempurna karena jika tidak rata justru ayam jadi kesulitan makan. Potongan harus tegak lurus dengan sumbu paruh kira-kira 1/3 panjangnya dari lubang hidung (2 mm dari lubang hidung).
 Cara memotong paruh yang benar :
1.      Genggam ayam, letakkan ibu jari dibelakang kepala ayam.
2.      Gunakan ibu jari untuk memegang kepala ayam.
3.      Pilih lubang yang sesuai dengan besarnya paruh.
Sesudah potong paruh isi tempat pakan dengan lebih tebal selama 3 hari dan pastikan ayam dapat makan dengan enak dengan kedalaman pakan yang memadai.
2.6 Pemberian Obat Cacing
Selama pertumbuhan ayam pullet sejak umur 1-14 minggu diberikan obat cacing sebanyak 2 kali :
·         Capri-Albend, diberikan saat umur 49 hari (7 minggu) dengan dosis untuk 2000ekor = 93 gr/170 lt air minum.
·         Capri-albend, diberikan saat umur 84 hari (12 minggu) dengan dosis untuk 2000 ekor = 180 gr/260 lt air minum.
Setelahnya pemberian obat cacing diberikan setiap 3 bulan sekali dari minggu terakhir pemberian
2.7 Program Pencahayaan
Mulai periode DOC sistem pencahayaan dilakukan dengan cara bertahap bertujuan untuk membantu mengontrol kematangan seksual. Selain itu, berhubungan pula dengan kondisi lingkungan dan target program pakan. Umumnya ketika suasana terang, maka ayam akan makan. Artinya untuk program pakan, ketika waktu pencahayaan ditambah maka kesempatan makan juga ditambah.
Intensitas cahaya pada usia growing akan bisa menyebabkan early sexual maturity. Pada pemeliharaan pullet diusahakan agar kondisi ruangan tidak terlalu terang, agar ketika di pindah di kandang baterei yang terang, akan merangsang hipothalamus untuk mengeluarkan hormon yang memacu terjadinya kematangan sexual.
UMUR (minggu)
LAMA PENCAHAYAAN (jam)
1
22-24
2
18
3
16
4-19
Penyinaran Alami
20
13
21
13,5
22
14
23
14,5
24
15
25
15,5
26-afkir
16

2.8 Program Pemberian Pakan
Jumlah pakan yang diberikan menurut standard feed intake dihitung dalam satuan gram/ ekor/ hari. Jumlahnya meningkat setiap hari seiring dengan kebutuhan energi untuk metabolisme tubuh dan kapasitas tembolok.
Kemampuan menghabiskan pakan berhubungan erat dengan tercapainya target berat badan. Jika pakan habis dan tidak ada masalah maka berat badan seharusnya tercapai. Jatah pakan yang tersisa tetap dihitung dan sebelum umur 14 minggu harus termakan semua.
Setiap perubahan pakan harus dikenalkan dahulu pakan penggantinya dalam waktu beberapa hari dalam jumlah dan waktu yang bertahap. Usahakan pakan yang lama benar-benar habis baru kemudian diberikan pakan baru.



STANDARD PEMBERIAN PAKAN DAN BERAT BADAN PULLET
UMUR (minggu)
KODE
PAKAN
JUMLAH PAKAN
(gram/ekor/hr)
STANDARD BERAT BADAN  (gram)
1
Chick Boost/BR1
11
65
2
Chick Boost/BR1
18
120
3
Chick Boost/BR1
24
200
4
Chick Boost/BR1
29
290-300
5
Chick Boost/BR1/R1
34
385-410
6
R1
39
480-500
7
R1
44
570-590
8
R1/R2
49
660-680
9
R2
54
750-780
10
R2
57
840-870
11
R2
61
930-965
12
R2
64
1020-1060
13
R2
68
1105-1150
14
R2
71
1190-1240
15
R2
73
1275-1330
16
R2/R5
76
1360-1420
17
R5
80
1445-1520
18
R5
84
1530-1600

2.9 Penimbangan Ayam
Penimbangan ayam dilakukan setiap 7 hari, dengan cara mengambil sampel (min 10%) dari tiap pen untuk dicocokan dengan target berat badan.
Setiap penimbangan dicatat kemudian dihitung tingkat keseragamannya, dan hal ini yang akan menentukan kebijakan terhadap perlakuan pada ayam di waktu selanjutnya.
Cara menghitung keseragaman (uniformity):
·         Tentukan jumlah ayam (sampel).
·         Timbang ayam (sampel) dan catat beratnya pada tabel. Jika umur ayam di atas 28 hari, penimbangan ayam dilakukan satu per satu.
·         Hitung berat ayam total. Jumlahkan dari setiap penimbangan berat ayam.
·         Hitung berat rata-rata per-ekor. Berat ayam total dibagi jumlah ayam sampel.
·         Hitung different, yaitu selisih target berat badan yang harus dicapai dengan berat rata-rata per-ekor.
·         Tentukan berat standard bawah (berat rata-rata – 10%) dan berat standard atas (berat rata-rata + 10%).
·         Hitung uniformity :
2.10 Pemindahan Ayam
Ayam mulai digrading sejak umur 2 minggu, yang nampak kecil dipisahkan tersendiri dalam small pen. Tiap 6 pen dibuatkan 1 small pen. Pakan yang diberikan standard atau kadang ditambah jatahnya tergantung kebutuhan.
Umur 4 minggu, dalam sistem two size adalah saat dilakukan pindah kandang. Pada saat menangkap ayam itu sekaligus melakukan grading 100%. Ayam dikelompokan menurut berat badan tertentu; besar, sedang dan kecil.
Besar tubuh yang seragam di kandang yang baru akan menyebabkan kesempatan makan yang sama pada tiap individu ayam dan pertumbuhan yang terjadi juga seragam sampai pada umur 14 minggu. Pada saat pindah kandang biasanya ayam diberi Capritrovit/Elektrovit dan untuk antisipasi terserang penyakit kadang perlu juga diberikan Caprimox/colamox (antibiotik).

2.11 Standard Operation Procedure WIRIFA SAKTI FARM
a)      DOC HOUSE (KANDANG DOC)
·         Begitu kandang kosong dilakukan pembersihan dengan dicuci air tekanan tinggi dan disikat sebelumnya kotoran terlebih dahulu diberishkan.
·         Dilakukan reparasi kandang
·         Penyemprotan dengan desinfektan (formalin atau lainnya)
·         Bersih kandang minimal selama 2 minggu
b)      Persiapan DOC IN
·         Alas kandang dari kertas koran dipersiapkan dan ditumpuk sebanyak 30 lembar
·         Tempat pakan dan tempat minum yang sudah diberishkan dan disterilkan dipersiapkan.
·         Tempat minum diisi dengan air gula,Tempat pakan diisi dengan pakan
·         1-3 jam sebelum datang lampu pemanas dinyalakan agar pen,dan air minum dalam kondisi hangat
·         DOC datang dilakukan penimbangan dengan berat standard 33-35gr per ekor
·         Brooder/pemanas dinyalakan selama 14-21 hari

SUHU BROODING SEJAK UMUR 1-28 HARI
UMUR (HARI)
SUHU (0 C)
0-3
32-35
3-7
29-34
8-14
27-31
15-21
24-27

·         Gradding/penimbangan dilakukan setiap 4 minggu,mulai dari umur 4,8,dan saat naik kandang batrai untuk mengetahui keseragaman berat badan dan penyesuaian pakan
·         Setiap pen diisi ±200-210 ekor. Setiap 2 minggu dilakukan pengurangan jumlah ayam agar pen tidak terlalu padat.
·         Pemberian pakan dan minum diberikan 2 kali dalam sehari. Prinsip dari air minum adalah ad-libitum
·         Pada kandang DOC ada 10 pen  masing-masing berukuran 2mx3m
c)      Grower
·         Pada kandang grower alas sudah menggunakan kawat terdiri dari 18 pen
·         Ayam dipindah kekandang grower pada umur 4 minggu sampai siap naik kekandang batrai
·         Tiap pen diisi 100-150 ekor ayam agar tidak terlalu padat
·         Pencahayaan alami
d)     Kandang Batrai
·         Ayam pullet usia 13-15 minggu dipindah kekadang batrai.
·         Pada saat pemindahan kekandang batrai dilakukan gradding atau penimbangan
·         Pada kandang batrai
-          Pagi pukul 07.00-10.00: Pegawai kandang meratakan pakan atau menimbang sisa pakan hari sebelumnya, Membersihan tempat pakan dan minum, memberikan pakan dan minum, kemudian membersihkan kandang dan lantai kandang menggunakan sikat dan sapu.
-          Pukul 10.00-11.00: Colecting telur dan recording telur
-          Pukul 11.00-13.00: Meratakan pakan,penambahan air minum dan istirahat
-          Pukul 13.00-15.00: Menambahakan pakan dan air minum, colecting & recording telur sore hari
·         Pada kandang batrai lama pencahayaan selama 14-16jam (12 jam adalah pencahayaan alami dan sisanya adalah dengan lampu.
·         Jika Kondisi mendung maka lampu harus dinyalakan.
·         Dua kali dalam seminggu dilakukan penyikatan lantai kandang menggunakan kaporit dan deterjen
·         Sebulan sekali tempat minum dicuci menggunakan terpol


III. MATERI METODE

3.1    Lokasi dan Waktu
Praktek Kerja Lapangan mahasiswa PPDH Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya di bidang Perunggasan khususnya Layer di laksanakan di WIRIFA SAKTI FARM yang terletak di Trawas, Mojokerto pada tanggal 14 Oktober – 27 Oktober 2013.

























IV. HASIL KEGIATAN

1)      Vaksinasi Avian Influenza

Metode yang dipakai saat Vaksinasi ini adalah metode injeksi intramuskular. Vaksin ini hanya bersifat penggulangan atau booster terhadap vaksinasi yang telah dilakukan sebelumnya. Metode ini memerlukan alat  bantu berupa stroker dan selang khusus. Stroker ini merupakan alat suntik otomatis yang dapat kita atur berapa jumlah cairan yang akan kita suntikan. Memang alat ini cukup mahal harganya, namun dengan adanya alat ini vaksinasi akan lebih mudah untuk dilakukan. Sedangkan selang khusus merupakan selang penghubung antara botol penyimpan vaksin dan stoker. Biasanya selang ini didapatkan dari produsen vaksin.
Persiapan yang harus dilakukan adalah melarutkan vaksin dengan aqua destilata. Banyaknya aqua destilata tergantung dari dosis vaksin dan keinginan dari pelaku vaksinasi. Biasanya kami menggunakan 0.3 ml perdosis vaksin sehingga kami melarutkan vaksin untuk 1000 dosis dengan 300 ml aqua destilata. Pada table vaksinasi, menggunakan 11/2 – 2 dosis untuk setiap ayam. Maksudnya adalah 1 ekor ayam kami suntik dengan dosis 11/2 kalinya  atau double dosis namun tetap menggunakan jumlah pelarut yang sama sehingga tetap menggunakan 300 ml aqua untuk 1500 atau 2000 dosis.
Cara melarutkannya sangat mudah yaitu dengan memasukan vaksin ke aqua destilata yang telah diukur jumlahnya, kemudian kocok dan bilas ampul vaksin beberapa kali dengan aqua tersebut. Setelah semua siap, pasang selang pada botol aqua tersebut dengan menancapkan ujung selang yang mempunyai jarum khusus dan ujung pada belahan yang lain disambungkan pada stroker. Yang perlu diperhatikan pada pemasangan stroker adalah penyesuaian dosis pada alat tersebut, jika hanya menginginkan hanya 0,3 ml saja yang kita suntikan, maka alat tersebut juga harus kita set sehingga vaksin yang akan dikeluarkanpun 0,3 ml. Penyesuaian alat ini sangat mudah hanya dengan menyetel sekrup ulir pada ujung alat.
Setelah semuanya siap, sekat kandang menjadi 2 bagian dengan menggunakan terpal. Seluruh ayam dikumpulkan pada salah satu sisi kandang. Pegang 5 ekor ayam sekaligus pada bagian kakinya dengan menggunakan satu tanggan dan usahakan agar dada ayam menghadap ke atas untuk memudahkan penyuntikkan. Penyuntikkan dilakukan pada paha ayam dengan hati-hati jangan sampai terlalu dekat dengan tulang dada dan jangan sampai tembus hingga mengenai hati. Biasanya kami menyuntikkan stroker dengan jarak ± 0,5-1 cm dari tulang dada  dengan arah suntikkan lebih mendatar.

2)      Bedah Bangkai

Metode bedah bangkai :
  1. Jika unggas masih dalam keadaan hidup, diperiksa terlebih dahulu tubuh bagian luar dan diamati gejala klinis tertentu.
  2. Diperiksa secara teliti adanya parasit eksternal pada bulu dan kulit. Diamati warna pial dan cuping telinga. Diperhatikan pula terhadap kemungkinan adanya diare, leleran dari paru, nares dan mata serta kemungkinan adanya kebengkakan dan perubahan warna daerah facial
  3. Unggas yang masih dalam kondisi hidup dapat dibunuh (eutanasi) dengan cara mematahkan leher pada persendian atlanto-occipitalis, emboli udara kedalam jantung.
  4. Bangkai hendaknya dibasahi dengan air terlebih dahulu untuk menghindari bulu tidak berterbangan, karena hal tersebut dapat menyebabkan pencemaran.
  5. Bangkai dibaringkan pada bagian dorsal dan dibuat suatu irisan pada kulit di bagian medial paha dan abdomen pada kedua sisi tubuh.
  6. Paha ditarik ke bagian lateral dan diteruskan irisan dengan pisau sampai persendian coxo femoralis.
  7. Irislah kulit pada bagian medial dari kaki / paha dan periksa otot dan persendian pada daerah tersebut.
  8. Buat irisan melintang pada kulit daerah abdomen, lalu kulit ditarik ke bagian anterior dan irisan tersebut diteruskan ke daerah thorax sampai mandibula. Irisan pada kulit juga diteruskan ke bagian posterior di daerah abdomen.
  9. Kuliti pada bagian ventral badan leher
  10. Potong dan singkirkan bagian dada demikian sehingga Nampak organ dalam
  11. Amati letak organ, adanya cairan pada rongga perut/ peritoneum dan rongg dada
  12. Saluran pencernaan dapat dikeluarkan dengan memotong oesophagus pada bagian proksimal proventrikulus. Tarik keluar seluruh saluran pencernaan ke arah posterior dengan memotong mesenterium sampai pada daerah kloaka. Periksa bursa fabrisius terhadap abnormalitas tertentu.
  13. Hepar, lien dikelurkan dan dilakukan pemeriksaan
  14. Keluarkan paruh bawah, lidah, esofagus, trakhea, jantung dan paru-paru bersama-sama
  
LANGKAH KERJA

1)      Mempersiapkan alat dan bahan praktek (hewan/ternak)
2)      Letakkan ayam dengan posisi punggung di bawah.
3)      Iris atau gunting kulit pada bagian antara kaki dan perut. Lakukan pada sisi sebelah kiri dan kanan.
4)      Patahkan sendi pangkal paha dengan menggenggam dan menarik ke luar hingga posisi kaki rata dengan meja/lantai. Lakukan pada sisi sebelah kiri dan kanan.
5)      Potong kulit antara dua irisan tadi dan tarik ke atas atau iris hingga semua sisi bagian depan tubuh ayam tampak, termasuk daerah leher.
6)      Periksa kondisi kondisi daging bawah kulit yang tampak.
7)      Potong dinding perut secara melintang, dilanjutkan dengan memotong di kedua sisi dada termasuk tulang iga,coracoid dan klavikula pada kedua sisinya. Angkat potongan ini.
8)      Amati organ dalam yang tampak di permukaan.
9)      Untuk mengamati saluran pencernaan dan organ lainnya potong bagian depan provent dan tarik keluar. Organ lain tersebut adalah bursa fabricius, trachea bagian dalam, paru-paru dan ginjal.
10)  Amati perubahan pathologi yang ada.
11)  Untuk pemeriksaan daerah kepala, potong paruh secara melintang dan membujur di antara dua paruh.
Adapun kasus yang ditemukan saat melakukan bedah bangkai, antara lain :                
1.      Colibacillosis
Penyebab penyakit ini adalah Escherichia coli. Problem yang ditimbulkan dapat infeksi akut berat dengan kematian yang tiba-tiba dan angka kematian yang tinggi hingga infeksi ringan dengan angka kesakitan dan kematian yang rendah.infeksi dapat terjadi pada saluran pernapasan, septicemia atau enteritis karena infeksi pada gastrointestinal. Penyakit ini dapat berdiri sendiri atau diikuti oleh infeksi sekunder. Infeksi sekunder yang menyertai penyakit ini adalah Mycoplasma gallisepticum. Semua umur dapat terkena penyakit ini, namun yang paling banyak adalah ayam usia muda.
Gejala yang ditimbulkan pada penyakit ini disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh bakteri akibat pertumbuhan dan multiplikasi. Invasi primer terjadi pada system pernapasan dan system gastrointestinal. Omphalitis atau infeksi pada anak ayam terjadi karena penutupan tali pusat yang kurang baik atau karena invasi bakteri melalui cangkang telur pada saat inkubasi. Berikut ini gejala yang timbul pada penyakit ini adalah:
-          nafsu makan menurun
-          ayam lesu dan tidak bergairah
-          bulu kasar
-          sesak napas
-          kotoran banyak menempel di anus
-          diare
-          batuk
Pada septicemia akut dapat menyebabkan kematian yang tiba-tiba. Pada pembedahan akan didapatkan:
-          dehydrasi
-           bengkak dan kongesti pada hati, limpa dan ginjal
-          perdarahan pinpoint pada organ viscera
-          eksudat fibrinous pada kantung udara, kantung jantung dan permukaan jantung, hati dan paru (sangat karakteristik)
-          usus menipis dan inflamasi serta mengandung mucous dan area perdarahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga sanitasi kandang seperti menjaga ventilasi udara, litter yang terjaga kebersihannya, secara teratur melakukan desinfeksi terhadap peralatan dan fasilitas lainnya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kualitas pakan dan air minum, kepadatan kandang harus diperhatikan, penanganan mesin penetas telur dan menjauhkan ayam dari stress yang dapat menurunkan daya tahan tubuh. Pengobatan Colibasillosis dapat dilakukan dengan obat-obat sulfa, neomisin, streptomisin dan tetrasiklin. Meskipun demikian, menurut info yang lain dikatakan pengobatan penyakit ini cenderung susah dan tidak menentu.
2)      Mycotoxyn
Mycotoxin merupakan zat beracun yang dihasilkan dari suatu spesies jamur. Saat ini ada beberapa spesies jamur yang memproduksi mycotoxin seperti Aspergillus sp , Penicilium sp , dan Fusarium sp. Biasanya jamur-jamur tersebut tumbuh pada hasil-hasil pertanian yang tidak mendapat penanganan yang baik pada pasca panen. Untuk wilayah kita komoditi Jagung, gaplek serta dedak merupakan media yang baik untuk pertumbuhan jamur-jamur tersebut. Dan alangkah ironisnya kesemuanya itu merupakan bahan yang dipakai dalam pakan campuran konsentrat.
Secara umum mycotoxin yang dihasilkan oleh species Aspergillus yaitu CPA, Aflatoxin B1, B2, G1, G2 , dan Ochratoxin A. Species Penicillum memproduksi Ochratoxin, Patulin dan Citrin. Sedangkan species fusarium memproduksi Fumonisins, Zearalenone, T-2 dan DAS (Devegowda dalam Diaz, 2005).
`Sampai saat ini ada beberapa mycotoxin yang sudah teridentifikasi di Indonesia yaitu AFB1, ZEN, DON dan CPA (Litbang Pertanian, 2001) dan dipertegas oleh Devegowda (2005) bahwa hampir 81% sample dari feedmill yang ada terkontaminasi oleh CPA. Keberadaan CPA ini merupakan ancaman bagi saluran pencernaan unggas.
Setiap mycotoxin mempunyai efek negatif pada target organ yang berbeda-beda, misalnya Aflatoxin menyebabkan kerusakan pada hati sedangkan Ochratoxin A menyebabkan kerusakan pada ginjal ternak. Secara umum serangan mycotoxin pada ternak unggas mengakibatkan :
1. Terjadi immunosuppresion (dikarenakan ada kelainan tymus dan bursa fabricus sebagai pabrik antibody)
2. Penurunan Feed Intake
3. Produksi telur akan terganggu serta turunnya hatchability
4. Pertumbuhan bobot badan (PBB) yang rendah
5. FCR tinggi
6. Terjadi wet dropping
7. Penurunan pigmentasi kulit
8. Terjadi kelainan organ dalam seperti gizzard , hati dan ginjal.
9. Peningkatan mortality

Diantara beberapa akibat diatas, ada satu yang benar-benar harus kita cermati yaitu terjadinyaimunosuppression. Apabila ini telah terjadi maka dapat diprediksikan bahwa di farm tersebut akan terjadi invasi dari virus/bakteri pathogenic. Dengan terjadinya penurunan daya tahan tubuh (immune), maka ternak tersebut akan lebih mudah terinfeksi virus/bakteri yang gejalanya lebih jelas daripada faktor primernya (mycotoxin).

Masing-masing ternak mempunyai daya tahan yang berbeda-beda terhadap kontaminasi mycotoxin dalam pakan. Dengan kata lain apabila kandungan mycotoxin didalam pakan masih dalam batas ambang aman, maka ternak tersebut masih bisa bertahan, tidak mengalami kematian hanya terganggu proses-proses metabolismenya dan apabila kandungan mycotoxin telah melebihi batas ambang aman maka ternak tersebut mulai menampakkan gejala-gejala mycotoxicosis tersebut diatas. Menurut BASF, 1998 menyebutkan bahwa ayam broiler mampu mentoleransi aflatoxin sebesar 0.010 ppm (10 ppb) sedangkan ayam layer mampu sampai dengan 0.02 ppm (20 ppb). Dan menurut Romindo, 2004, untuk semua unggas muda masih bisa bertahan terhadap kontaminasi Aflatoxin sampai dengan 0.05 ppm (50 ppb), untuk unggas dewasa sampai dengan 0.10 ppm (100 ppb).

3)      CRD (Crhonic Respiratory Desease)
Penyakit saluran pernafasan pada unggas yang disebabkan oleh Mycoplasma galisepticum. Penyakit CRD bersifat kronik, sehingga pada awal kejadian sulit terdeteksi. Hanya kadang-kadang terlihat kebengkakan pada sinus infra orbitalis,sehingga kelopak matanya bagian bawah akan terdorong ke atas. Pembengkakan umumnya bersifat unilateral,namun bisa juga bilateral.Secara klinik, hidung berair, berlendir, kebengkakan sinus kepala dan gangguan pernafasan(Dharma dan Putra, 1997. Pada anak ayam angka mortalitas sekitar 5-40%,sedangkan pada ayam dewasa mortalitasnya rendah tetapi banyak ayam yang diafkir (Charlton, dkk.,2000).Pada kejadian kronik dan sudah terjadiinfeksi yang komplek, terlihat cairan yang keluar dari hidung bersifat mukoid. Menurut Tabbu (2000), secara PA ditemukan eksudat mukus sampai kaseus pada saluran pernafasannya.
Beberapa alternatif untuk mengobati adanya infeksi bakteri adalah dengan pemberian antibiotik. Antibiotika yang sering digunakan untuk pengobatan CRD adalah golongan makrolide dan kuinolon. Akhir – akhir ini resiko penggunaan antibiotika mulai dibatasi, terutama adanya efek resisten dan residu pada bahan pangan. Residu yang biasa ditemukan didalam daging dan telur ayam adalah antibiotika dari golongan sulfa dan tetracycline. Pengobatan yang terus menerus dengan obat yang sama tidak disarankan, karena dapat menyebabkan resistensi serta meninggalkan residu yang berbahaya bagi konsumen produk ayam. Penggunaan antibiotika untuk pengobatan penyakit pada ayam sudah dibatasi. Informasi tentang bahaya resistensi dan residu antibiotik pada produk pangan khususnya daging ayam dan telur semakin penting seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan penyediaan bahan makanan yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).


V. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil setelah mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) PPDH di WIRIFA SAKTI FARM Trawas :
1.      Pendekatan patologi diagnostik merupakan suatu tindakan yang umum dilakukan dalam manajemen kesehatan hewan. Dengan pemeriksaan bedah bangkai(nekropst), maka diagnosa penyakit (tentatif) dapat ditetapkan. Lesi yang menciri(patognomonis)pada organ/jaringan tubuh akibat penyakit tertentu memiliki tingkat ketepatan diagnosa yang tinggi.
2.      Manajemen perkandangan di Wirifa Sakti Farm telah diatur dan dilaksanakan dengan baik.
3.      Vaksinasi dilakukan secara teratur sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.
Pemberian obat cacing rutin dilakukan selama tiga bulan sekali.



VI. DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2012. Penyakit dan Pengobatan Pada Penyakit Ayam. https://id-id.facebook.com/notes/informasi-peternakan-ayam/penyakit-dan-pengobatan-pada-penyakit-ayam/422029891158746.

CHARLTON,B.R.,A.B. BERMUDEZ, M. BOULIANNE,D.A.HALVORSON, J.S.JEFFREY, L.J. NEWMAN, J.E. SANDER and P.S. WAKENELL. 2000. Avian Disease Manual. Fifth Edition. American Association of Avian Pathologists. Pennsylvania. USA. pp. 204-231.

DHARMA, D.M.N. dan A.A.G.PUTRA.1997. Penyidikan Penyakit Hewan. CV Bali Media Adhikarsa Denpasar.

TABBU, C.R. 1996. Dampak ekonomis dari penyakit unggas. Pros. Temu Ilmiah Hasil-Hasil Penelitian Peternakan. Ciawi-Bogor, 9-Il Januari 1996. Puslitbangnak. Badan Litbang Pertanian. him. 49-58.